Oleh: EL-Asah | 28 Januari 2009

Untuk Direnungkan

praying12Mitos-Mitos Doa

 

 

  

 

 

 

Lukas 18:10-14

10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

Apakah Anda seorang yang suka berdoa, atau mendoakan orang lain?  Apakah Anda percaya bahwa dengan berdoa semua persoalan hidup Anda dapat terselesaikan?  Berapa kali dan berapa jam Anda berdoa dalam sehari, atau dalam seminggu? Berapa persen dari semua persoalan yang Anda doakan sudah terjawab atau sudah terselesaikan?

Jawaban-jawaban  terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tentulah bervariasi, atau berbeda-beda. Dan ketika Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara jujur,  jawaban Anda  mungkin bisa membuat Anda merasa bahwa  ternyata Anda bukanlah  seorang  yang mempunyai iman kuat, karena Anda akan menyadari bahwa ada banyak doa Anda yang belum terjawab, atau mungkin tidak akan pernah dijawab.

Yang menjadi pokok persoalan berikutnya bagi Anda sekarang adalah bagaimana agar doa-doa Anda dijawab bisa dijawab oleh Tuhan.   Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah ada suatu konsep tentang cara (metode) berdoa yang menjamin bahwa   doa-doa Anda akan efektif?  

Anggapan bahwa ada sebuah konsep tentang cara berdoa yang paling efektif mendorong banyak orang untuk menciptakan cara-cara berdoa yang dianggap paling baik, mencari dan membangun tempat-tempat berdoa yang disakralkan, atau mencari orang-orang yang dianggap mempunyai keunggulan dalam berdoa.  Semua  cara tersebut hanyalah kepercayaan yang kalau dilihat secara jujur, tidak jauh berbeda dari pola-pola kepercayaan orang-orang kafir, yaitu kepercayaan  yang mengkultuskan sesuatu: bisa tempat, bisa benda, bisa cara,  bisa seseorang,  dan lain-lain.

Misalnya; ada yang meyakini bahwa hamba Tuhan atau Pdt. A  (manusia) mempunyai otoritas khusus dalam mendoakan orang sakit, atau mendoakan keberhasilan usaha. Ada yang meyakini bahwa kalau Anda beribadah atau berdoa di  gereja (persekutuan) B, doa Anda pasti dijawab.  Ada pula  yang percaya bahwa jika Anda berdoa di bukit doa itu, atau gua doa ini, atau taman doa sana, maka doa Anda akan dijawab dalam waktu singkat.  Semua anggapan dan keyakinan tersebut hanyalah mitos.

Mari kita kembali pada bacaan dalam Alkitab di atas. Yesus mengatakan bahwa ada dua orang pergi ke bait Allah untuk berdoa:

Orang pertama (Farisi) masuk dan berdiri di depan altar  dalam Bait Allah. Ia berdoa dengan penuh semangat (berapi-api), ia berdoa dengan penuh percaya diri, dan ia mengungkapkan isi doanya  secara sistematis.  Ia sangat yakin bahwa berdoa dengan cara-cara seperti itu pasti berhasil.  Apa yang menjadi dasar keyakinannya?

 

1.      Status atau atribut-atribut rohani:  Ia berpikir bahwa status dan atribut-atribut religius yang ia miliki sebagai seorang Farisi itu akan membuat doa-doanya berwibawa sehingga menjadi efektif (ayat 11).

2.      Tempat yang disakralkan:  Ia mengira bahwa tempat yang disakralkan, di mana ia sedang beridiri (di bait Allah) akan membuat doa-doanya menjadi sakral dan karenanya akan manjur (ayat 11).

3.      Nilai-nilai moralitas: Ia menganggap nilai-nilai moralitas/spiritualitas yang dimilikinya – sebagai orang yang baik, orang yang bersih, orang rohani, menjamin  jawaban terhadap doanya: aku tidak seperti semua orang (ayat  11).

4.      Aktivitas rohani:  Ia  mengira bahwa  aktivitas-aktivitas rohani yang dilakukannya – berpuasa dua kali dalam seminggu, memberikan semua persepuluhan, akan menggugah hati Allah sehingga Allah menjawab doanya: aku berpuasa dua kali  dalam seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku (ayat 12).

 

Lalu bagaimana respon Yesus terhadap doa orang Farisi ini?  Yesus tidak memberi komentar. Yesus tidak tertarik mendengar doa itu, dan tidak peduli apa isi doa orang Farisi. Doa itu dibiarkan berlalu bagai angin…… Artinya, metode-metode berdoa yang dia lakukan bersifat mitos  – hanya sebuah kepercayaan, sebuah anggapan, yang diciptakannya sendiri.

           

Orang kedua (si Pemungut Cukai) – berbeda  dari orang Farisi tadi yang  berdoa dengan cara berdiri di depan altar dalam Bait Allah,  si pemungut cukai berdoa dengan cara bardiri jauh di luar halaman bait Allah, dan doanya pun sangat singkat, bahkan tidak sistematis (ayat 13).

1.      Ia berdoa dengan sikap yang realistis – berdiri jauh-jauh, tidak berani mengangkat muka –   karena  ia merasa tidak layak.  Ia melihat pada dirinya melekat begitu banyak kesalahan dan dosa yang telah ia lakukan juga karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai, membuat ia menerima kebencian dari orang-orang lain.

2.      Ia berdoa dalam penyesalan yang mendalam – memukul-mukul diri  – karena sadar akan dosa-dosanya.

3.      Ia berdoa  dalam kerendahan hati, hanya memohon rasa belas kasihan dari Tuhan – kasihanilah aku orang yang berdosa ini – karena ia kenal diri – bahwa ia hanyalah seorang manusia berdosa yang tidak berhak menuntut, mengklaim apa-apa kepada Tuhan.  

 

Tetapi bagaimana tanggapan atau reaksi Yesus terhadap doa si pemungut cukai itu? Dalam ayat 14 Yesus berkata:  Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.  Doa si pemungut cukai  menggugah hati Yesus,  sehingga Yesus menjawabnya dengan pembenaran.  Si pemungut cukai  pulang ke rumahnya membawa hasil-hasil doanya, yaitu hidupnya dterima sebagai orang benar.

Apa yang dimaksud dengan mitos-mitos doa? Perhatikan cara berdoa si orang Farisi. Di dalam doanya terdapat banyak hal yang dimitoskan:

 

 

1.      Mitos status   

Orang  pertama mempunyai status keagamaan (kerohanian) yang cukup terhormat dalam agama Yahudi. Ia adalah seorang Farisi. Paulus mengatakan bahwa status atau posisi sebagai orang Farisi memberi banyak keuntungan dan hak-hak istimewa (Filipi  3:4-7).  Dalam kapasitasnya sebagai Farisi, ia juga melakukan banyak kegiatan keagamaan (kerohanian) yang dianggap akan menjamin doa-doanya lebih efektif. 

Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan doa-doa  mereka sangat tergantung pada siapa yang mendoakan, atau siapa yang berdoa berdoa untuk mereka. Apakah yang mendoakan itu adalah hamba Tuhan (pendeta) si A yang diyakini orang memiliki karunia ini dan itu, apakah pendeta si B, yang  dikenal memiliki status ini dan itu, atau hamba Tuhan si C, si X, dll.   Artinya, mereka yang beranggapan demikian telah mimiliki mitos doa,  dalam hal ini adalah memitoskan manusia. 

Keadaan ini lebih diperparah dengan munculnya oknum-oknum hamba Tuhan yang memitoskan dirinya sendiri  sebagai pendoa-pendoa yang mempunyai kuasa menyembuhkan, mempunyai karunia  yang dapat mengatasi setiap masalah kita, atau memitoskan diri sebagai  hamba Tuhan yang memiliki karunia khusus ini, khusus itu, dan lain-lain.

Ciri dari hamba-hamba Tuhan yang memitoskan dirinya adalah  menyampaikan untkapan-ungkapan yang berbunyi:  Saya akan berdoa supaya Anda mengalami mujizat, saya akan berdoa supaya Anda menjadi orang sukses, saya akan berdoa supaya usaha Anda diberkati, Tuhan mengutus saya untuk memberkati Anda,  dst…… Akhirnya doa-doanya menjadi seperti barang komersial. Doa menjadi alat untuk mengkomersialkan diri.

 

2.      Mitos tempat

Sebagian orang beriman mengira atau memiliki kepercayaan bahwa tempat di mana kita berdoa, atau tempat di mana kita beribadah  akan menjamin doa akan dijawab. Akibatnya muncul ungkapan-ungkapan: kalau Anda berdoa di  gua doa yang di sana, Anda pasti mangalami hadirat Tuhan, kalau Anda berdoa di taman doa itu, Anda pasti mengalami mujizat, kalau Anda berdoa di gunung itu, doa-doamu pasti dijawab.

Ada banyak orang yang mengatakan: kalau Anda beribadah di gedung itu, Anda akan mengalami sukacita surga,  atau kalau  Anda ingin mengalami kepenuhan Roh Kudus, Anda harus berjemaat di gereja yang  ini. Ada juga yang mengatakan:  kalau Anda ingin mengalami kesuksesan dalam usaha atau karier, Anda harus menjadi anggota gereja ini, atau kalau Anda ingin selalu mengalami mujizat-mujizat berkat,  jadilah pengikut pendeta. A.

 Lalu muncul slogan-slogan di sana sini demikian:  Datanglah ke rumah mujizat!  Hadirlah di rumah berkat! Kunjungilah rumah pemulihan! Di sini Anda akan dipulihkan!   Slogan-slogan yang demikian secara terang-terangan telah memitoskan (memberhalakan) suatu tempat. Dan pola-pola seperti ini juga tidak berbeda  dari bentuk-bentuk kepercayaan orang kafir. Misalnya; orang mencari rejeki dengan cara memitoskan gunung Kawi, orang mencari keberhasilan dengan memitoskan Parang Kusuma yang dipercayai sebagai tempat ratu Kidul, dan tempat-tempat lain yang dimitoskan orang-orang kafir.

Yesus menentang doa-doa yang memitoskan tempat. Ia mengingatkan perempuan Samaria, bahwa pendoa dan penyembah yang benar tidak boleh memitoskan  gunung Samaria ataupun gunung Sion Yerusalem.  Orang yang berdoa dengan memitoskan suatu tempat, adalah orang yang tidak mengenal siapa yang ia sembah (Yohanes  4:21-23).

             

3.  Mitos kemampuan spiritual

Terdapat pula sebagian orang yang  percaya bahwa persoalan-persoalan hidupnya akan teratasi kalau yang mendoakannya adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual yang khusus (bahasa Alkitab: orang yang memiliki karunia rohani khusus).

            Kita sering berjumpa dengan oknum-oknum yang mengaku memiliki karunia doa pelepasan, ada yang mengaku memiliki karunia doa mengusir setan, ada yang mengaku memiliki karunia penyembuhan, ada yang mengaku memiliki karunia penyembuhan luka-luka dalam, ada yang mengaku memiliki karunia memberkati, dst…..

 Lalu muncullah himbuan-himbauan yang menyatakan  bahwa kalau Anda menginginkan kesembuhan fisik, Anda harus datang kepada hamba Tuhan A,  karena dia punya karunia kesembuhan. Kalau Anda ingin mengalami pelepasan, Anda harus datang kepada hamba Tuhan X  sebab dia punya karunia pelepasan. Kalau Anda i ngin mengalami mujizat berkat rumah tangga/usaha – Anda harus cari hamba Tuhan Z, sebab dia punya karunia memberkati.

Jika seseorang – Anda berdoa – dengan mengandalkan karunia-karunia rohani yang ada pada seseorang, Anda sesungguhnya sedang terjebak dalam kerangka berpikir mitos, atau Anda sedang memitoskan kemampuan-kemampuan rohani. Alkitab memang mengajarkan tentang adanya karunia-karunia, atau kemampuan-kemampuan  rohani yang diberikan kepada seseorang, akan tetapi adanya karunia-karunia rohani tidak dimaksudkan mengesampingkan nilai dan  otoritas kuasa Nama Yesus. Adanya karunia-karunia rohani tidak boleh menggeser pengharapan dan pengagungan kita kepada Nama Yesus.  Firman Tuhan berkata: di bawah kolong langit tidak ada nama lain yang melaluinya kita selamat  atau mendapat perrtolongan – kecuali dalam nama Yesus (Kis.4:12).

 

Nama Yesus

Tuhan menjawab doa-doa kita – bukan karena siapa yang berdoa atau mendoakan kita – tetapi karena kita mengenal siapa diri kita yang berdoa di hadapan Allah.   Tuhan menjawab doa-doa kita – bukan karena kita berdoa atau beribadah di suatu tempat yang disakralkan, atau di suatu rumah ibadah yang dikultuskan – tetapi karena kita berdoa dengan hati jujur kepada Tuhan.  Tuhan menjawab doa-doa kita – bukan karena kemampuan (karunia) rohani dari seseorang – tetapi karena kebesaran kemurahan dan rasa belas kasih Allah kepada kita, dan karena kita berdoa dalam Nama Yesus.

Yesus menegaskan bahwa doa yang dinaikkan atas Nama-Nya akan dijawab:  Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yoh. 14:14).  Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku (Yoh.16:23).  

Jika Anda mengira atau percaya bahwa seseorang yang memiliki jabatan rohani menjamin keberhasilan sebuah doa, Anda sedang terperangkap dalam mitos.  Jika Anda menganggap bahwa  ada tempat-tempat tertentu, rumah-rumah ibadah tertentu yang  menjamin doa-doa Anda dijawab, atau yang menjamin Anda diberkati, Anda telah dikuasai oleh prinsip-prinsip kepercayaan primitif yang sarat dengan mitos.

Yesus tidak menghendaki kita mengkultuskan suatu tempat untuk berdoa. Ia berkata kepada seorang wanita Samaria yang Ia temui di sumur Yakub, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Yohanes 4:21-23)

Allah telah memberikan satu karunia terbesar, kuasa terbesar,  yang menjamin keberhasilan setiap doa kita.  Karunia itu adalah Nama Yesus Kristus.  Rasul Paulus mengingatkan kitab bahwa yang perlu diagungkan dan diandalkan dalam doa adalah nama Yesus, karena Allah sendiri telah meninggikan Nama itu: Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus

adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:9-11).

            Nama Yesus  lebih tinggi  dari pada si pendoa, siapapun dia dan apapun status serta gelarnya (hamba Tuhan, pendeta, pastor,  nabi, rasul, penginjil, dll). Nama Yesus lebih sakral dari pada gua-gua doa, gunung-gunung doa, gedung-gedung gereja, dan Nama Yesus lebih besar dari pada karunia-karunia rohani.

Yesus menegaskan:  apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yohanes 14:13-14).

Hanya nama Yesus yang menjamin doa-doa kita dijawab, di luar prinsip keyakinan ini adalah mitos.


Responses

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: