Khotbah

KETIKA ALLAH TURUN TAKHTA

Oleh: Pdt. Dr. S. Tandiassa, M.A.

cutemanSetiap kali kita merayakan Natal, perenungan kita selalu dibawa ke peristiwa yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Pentas-pentas Natal menampilkan drama-drama yang dibungkus dengan berbagai budaya dan tradisi  kuno bangsa Ibrani. Para pengkhotbah atau pembawa renungan di hari Natal  biasanya menyajikan berbagai cerita tentang tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa di sekitar  kelahiran Yesus, yang kadang tanpa disertai dengan makna atau pesan-pesan moral dan spiritual yang relevan dengan kondisi dan kebutuhan manusia modern.

Tiga penulis Perjanjian baru menyajikan cerita kelahiran Yesus secara bervariasi. Matius menceritakan bahwa seorang pria bernama Yusuf bertunangan dengan seorang wanita yang bernama Maria. Sebelum mereka menikah, Maria sudah mengandung dari Roh Kudus dan kemudian melahirkan seorang yang diberi nama Yesus.  Sedangkan Lukas menceritakan bahwa Malaikat Gabriel mengunjungi seorang gadis di Nazaret dan memberitahu bahwa sang gadis akan mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan seorang putra yang disebut Anak Allah.

Berbeda dari Matius dan Lukas, Rasul Paulus tidak menyajikan cerita tentang bagaimana Yesus lahir.  Paulus langsung memaknai peristiwa kedatangan Yesus ke dalam dunia sebagai tindakan Allah ‘turun dari takhta-Nya’. Dan itu pun diungkapkan hanya di dalam tujuh ayat, tepatnya di dalam Surat Filipi 2:5-11:

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Di dalam dan melalui Yesus, Allah turun takhta. Atau dengan pengertian lain, Yesus yang diceritakan oleh Matius dan Lukas, adalah Allah yang turun dari takhta-Nya.  Langkah-langkah Allah turun dari takhta-Nya dimulai dengan mengosongkan diri dari sifat-sifat mutlak-Nya sebagai Allah, lalu turun menjadi manusia yang serba terbatas,  turun lagi menjadi hamba yang harus menundukkan diri, dan turun lebih ke bawah lagi, yaitu ke dunia orang mati. Tetapi dari dari tempat  yang paling rendah itu, Yesus naik menjadi Yang Mahatinggi dan Mahakuasa, dan yang kepada-Nya segala makhluk menundukkan diri.  jesus-y

Dari perspektif Rasul Paulus tentang kelahiran Yesus sebagai ‘Allah turun takhta’ kita menemukan beberapa pesan dan makna yang sangat penting untuk menjadi standar norma-norma moral Kristiani di dalam hidup  bermasyarakat.

I. NILAI-NILAI HIDUP YESUS

Sebelum menjelaskan tentang nilai-nilai hidup Yesus, perlu dijelaskan   terlebih dahulu arti atau apa yang dimaksud dengan nilai-nilai. Secara sederhana yang dimaksud dengan nilai-nilai adalah konsep tentang penghargaan tinggi terhadap beberapa pokok kepercayaan yang dianggap baik, sakral, dan mulia sehingga dijadikan sebagai pedoman bagi tingkah laku hidup. Misalnya soal kesabaran; kita mempercayai bahwa sabar adalah bagian dari karakter Allah, maka kesabaran adalah salah satu dari nilai-nilai iman Kristen.

Dari perspektifnya tentang peristiwa ‘Allah turun takhta’  Rasul Paulus bermaksud mengungkapkan nilai-nilai hidup Yesus, yang selanjutnya dijadikan sebagai nilai-nilai  dalam perilaku hidup orang-orang beriman kepada Yesus.  Sebenarnya ayat-ayat tersebut sangat kaya dengan nilai-nilai hidup Yesus, tetapi kita akan membatasi pembahasan pada tiga hal saja.

1. Merendah

Yesus berada dalam posisi setara dengan Allah, Ia dalam rupa Allah, dan Dia adalah Allah itu sendiri – at. 6. Di dalam posisi Allah, Yesus memiliki semua sifat kemahaan: mahatinggi, mahakuasa, mahabesar, mahakudus, mahaada, mahamulia, dan seterusnya. Pada posisi yang mahatinggi itu Yesus berhak dan layak untuk menerima semua  pengagungan dan pemuliaan. Akan tetapi Dia yang adalah Allah merendah dengan cara ‘turun takhta’  atau ‘tidak mempertahankan posisi-Nya. Yesus relah melepaskan posisi-Nya dengan semua predikat terhormat-Nya demi mengangkat martabat manusia.

Sifat merendah Yesus

a. Posisi sebagai Allah dengan semua sifat kemahaan-Nya tidak membuat Yesus merasa superior, dan tidak membuat Yesus menuntut penghargaan, penghormatan, pengagungan, pemujaan, pemuliaan, atau menuntut prioritas.

b. Posisi Yesus yang setara dengan Allah justru dilihat dan dihayati sebagai posisi seorang pelayan,  dan bukan posisi sebagai tuan, majikan, atau  posisi raja yang selalu menuntut untuk dilayani dan dihormati. Sebaliknya Yesus justru menyatakan bahwa Aku datang bukan untuk dilayani tetapi melayani – Markus 10:45

c. Posisi Yesus sebagai Putra Tunggal Allah yang memiliki semua sifat kemahaan, tidak membuat Yesus merasa enggan untuk menjadi pelayan dan menempatkan diri sebagai hamba bagi manusia. Dan setelah berada di dalam dunia, Yesus juga tidak merasa rendah ketika Ia  melakukan pekerjaan –pekerjaan seorang hamba. 

2. Menjadi Sesama Manusia

Secara esensial Yesus memiliki natur dan sifat-sifat yang membuat-Nya berbeda secara eksklusif dari semua manusia.  Sebab di dalam diri Yesus terdapat semua sifat kemahaan Allah. Akan tetapi dengan spirit ‘turun takhta’ Yesus bisa membuat diri-Nya menjadi sesama manusia dalam arti yang sesungguh-sungguhnya – at. 7: Ia menjadi sama dengan manusia.

Yesus menjadi sesama bagi semua orang dari berbagai tingkatan dan kelas. Yesus menyatakan secara terbuka di depan masyarakat umum bahwa semua orang adalah anggota keluarga-Nya:  Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! – Mark. 3:33-34Yesus menjadi sesama dengan orang-orang yang paling hina. Melalui sebuah perumpamaan tentang penghakiman, Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai saudara bagi orang-orang yang paling hina – Mat. 25:35-19.  Orang-orang yang hina adalah mereka yang lapar, yang miskin, yang tidak punya tempat tinggal, yang tertindas, yang terpenjara, yang sakit, yang diperlakukan sewenang-wenang, dan yang termarginalkan. Secara spesifik Yesus menunjuk pada seseorang yang sangat hina   sebagai saudara-Nya: Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku – Matius 25:40.

Yesus bahkan rela menjadi sesama dengan setiap orang di dalam situasi hidupnya masing-masing. Ia rela menjadi sesama bagi Zakheus yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Yesus makan satu meja dengan Zakheus dan kawan pemungut cukai lainnya, tidur dalam satu rumah dengan keluarga Zakheus – Luk. 19:5-10. Ia rela menjadi sesama bagi keluarga Marta yang dirundung duka dan kesedihan yang mendalam – Yoh. 11:33-35.  Yesus menjadi sesama dengan mereka yang lemah – Ibr. 4:15. Jelasnya, Yesus tidak sekedar bersimpati atau berempati,  tidak hanya sebatas merasa prihatin ketika melihat kesulitan dan penderitaan seseorang,  tetapi Ia masuk dan turut mengalami secara langsung setiap situasi hidup yang mendera manusia.

3. Tulus

Allah Yang menjelma menjadi manusia Yesus Kristus adalah pencipta, penguasa, dan pemilik yang berdaulat mutlak atas alam semesta, dan kepada segala sesuatu menggantungkan kelangsungan hidupnya, termasuk manusia. Yohanes mengungkapkan bahwa segala sesuatu pun  dari yang ada sekarang ini yang tidak diciptakan oleh-Nya, atau berada diluar kekuasaan-Nya – Yoh. 1:1-3.

Akan tetapi ketika Allah ‘turun takhta’ – merendah dan menjadi sesama manusia – Ia harus menundukkan diri – At. 8, Ia taat sampai mati. Adalah ketulusan hati yang mendasari sikap ketaatan Yesus.  Dengan pengertian lain, Yesus taat menjalani semua proses hidup-Nya dengan tulus.

a. Yesus tulus dalam menundukkan diri pada kehendak Bapa-Nya. Ketika Ia bergumul dengan cawan penderitaan di taman Getsemani,  Yesus berserah dengan tulus: bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang jadi – Mat. 26:39-42.

b. Yesus tunduk dengan tulus pada hukum-hukum Musa, dan kepada  ayah dan ibu-Nya – Luk. 2:21-24, 51. Ia tunduk dengan tulus kepada hukum-hukum sipil-Luk.20:25,

c. Klimaksnya, Yesus menerima dengan tulus semua keputusan pengadilan agama Yahudi yang menjatuhkan hukuman mati tersalib atas diri-Nya sendiri, walaupun Yesus tahu bahwa Ia tidak bersalah – Luk. 23:24-25.

Dengan spiritualitas ketulusan, Yesus menundukkan diri tidak   hanya untuk memenuhi norma-norma etika atau sopan santun,  tidak sekedar formalitas untuk memuaskan pihak-pihak tertentu, dan juga tidak karena mengharapkan imbalan-imbalan berupa pemujaan atau pengagungan. Yesus tulus dalam menundukkan diri  karena memang spiritualitas-Nya adalah tulus.  Atau dengan kata lain roh ketulusan menguasai seluruh jiwa Yesus.

Jika Ia tidak  tulus dalam menundukkan diri, maka Ia pasti bukan Yesus yang datang dari Atas, Ia pasti bukan inkarnasi dari Firman, atau bukan Yesus yang dikandung dari Roh Kudus.  Tegasnya, keunggulan dan sekaligus keunikan manusia Yesus justru terletak pada sikap-Nya yang tulus dalam melaksanakan semua tugas dan pelayanan-Nya.

II. NILAI-NILAI MORAL KRISTIANI

Setalah sekian kali dan sekian lamanya Anda merayakan Natal, apakah anda sudah menangkap, menghayati, dan mengamalkan secara tepat makna dan pesan-pesan yang sesungguhnya dari peristiwa kelahiran Yesus Kristus? Ketika Anda mengadakan berbagai aktivitas di sekitar perayaan Natal, apakah spiritualitas ‘Allah yang menjadi manusia’ menjiwai Anda? Apakah perayaan-perayaan Natal Anda dimotivasi oleh spirit ‘Allah turun takhta?’

Melalui perenungannya tentang peristiwa kelahiran Yesus Kristus   sebagai ‘Allah turun takhta’ Rasul Paulus bermaksud menyampaikan pesan-pesan moral, khususnya kepada semua pengikut Yesus yang  disebut umat Kristiani.  Paling sedikit terdapat tiga pesan spiritualitas moral yang diungkapkan Rasul Paulus melalui konsep ‘Allah turun  takhta’.

1. Spiritualitas Merendah

Secara alami perubahan status sosial dan ekonomi seseorang  akan christ_handsmengubah kondisi spiritualitasnya atau mempengaruhi kondisi psikologisnya. Di dalam kondisi yang serba kurang secara ekonomi atau miskin, sikap merendah, mengalah, dan pasrah bukan hal yang sulit untuk dilakukan seseorang. Akan tetapi ketika status sosial dan ekonomi seseorang mulai naik, atau semakin meningkat, rasa prestisenya juga semakin tinggi, egonya semakin besar, dan  ia pun mulai mengharapkanan bahkan menuntut untuk dihormati, dihargai, dan dituankan.

Merendah sebagai nilai-nilai moral Kristiani tidak membedakan situasi atau kondisi. Artinya,  seorang Kristen bersikap merendah tidak hanya ketika yang bersangkutan masih berada di dalam situasi atau posisi yang rendah, tetapi terlebih-lebih ketika ia sudah berada pada posisi yang mapan. Moral Kristiani – dari Kristus – adalah: semakin naik, semakin bersikap merendah, semakin tinggi, semakin berjiwa menunduk, semakin naik ke posisi-posisi terhormat, semakin berjiwa pelayan dan hamba. Yesus berpesan demikian:  Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin   menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya – Mark 10:43-44.

Ingat bahwa salah satu watak yang menutup pintu surga bagi orang-orang yang merasa kaya adalah sikapnya yang tidak mau merendah.  Yesus menggunakan istilah: lebih  mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang yang merasa kaya masuk SurgaMark. 10:25. Di mata Yesus orang-orang yang merasa kaya kebanyakan berjiwa angkuh, congkak, sombong, atau dengan istilah yang lebih popular – arogan!

2. Spiritualitas Menjadi Sesama

Reformasi politik dan ekonomi – demokrasi dan pasar bebas – serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, harus diresponi secara positif bahwa hal-hal tersebut pada satu sisi memang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Akan tetapi kita juga perlu bersikap realistis bahwa baik reformasi politik dan ekonomi, maupun  kemajuan IPTEK telah mencampakkan sebagian besar masyarakat ke dalam lubang kemelaratan yang tak berujung.

Beberapa fakta dari asumsi tersebut di atas dapat disebutkan di sini seperti: PHK yang terjadi secara massal mengorbankan nasib ribuan buruh, penggusuran yang membabi buta terhadap para pedagang kaki lima yang berusaha mencari sesuap nasi di pinggir-pinggir jalan,  korban massal dari perusahaan perusaan raksasa milik para cukong, sebutlah misalnya Lapindo di Jatim yang telah menghancurkan ketentraman ribuan keluarga, meluluhlantakkan harta warisan yang sudah dimiliki oleh penduduk secara turun temurun, merampas pekerjaan ratusan ribu buruh pabrik,  dan klimaksnya mencampakkan ratusan ribu sesama kita ke dalam kemelaratan yang tak berujung. Sebutlah juga salah satu perusahaan raksasa dunia, Freeport di tanah Papua, di mana sebagian besar dari masyarakat pemilik tanah Papua itu sendiri terus menerus hidup bahkan beberapa tingkat di bawah garis kemiskinan; buta huruf, pakaian dan tempat berteduh jauh dari layak, apalagi soal makanan, sementara tanah warisan nenek moyang mereka mengalirkan emas, dolar, rupiah, saham, dan telah memperkaya sejumlah besar manusia di dalam dan luar negeri.

Pada tahun 1995, seorang tokoh agama asal Papua pernah mengatakan dalam sebuah musyawarah pimpinan keagamaan: kalau kami merdeka, dalam jangka dua tahun semua penduduk Papua sudah mimiliki handphone. Namun realitasnya, mereka bukannya memiliki HP tetapi  justru kehilangan hak-hak yang paling azasi, kehilangan tanah, kehilangan kesempatan, tidak punya tempat di intansi-instansi atau kantor-kantor, dan mungkin semakin tergusur ke dalam hutan. Seorang teman pendeta dari Papua pernah mangatakan: lebih makmur ketika belum disebut Indonesia, karena sekolah gratis, pekerjaan tersedia, dan fasilitas-fasilitas lainnya tersedia.

Kondisi Indonesia dan kondisi zaman ini – yang di dalamnya terdapat jutaan orang terpuruk ke dalam penderitaan dan kemelaratan – menuntut umat Kristiani untuk memiliki spiritualitas memenjadi sesama bagi mereka yang tak berdaya dalam kemelaratan, menjadi sesama dengan mereka yang tertindas dan teraniaya, menjadi sesama dengan yang lapar, tak berpakaian, dan kedinginan,  menjadi sesama dengan mereka yang tergusur dan dimarginalkan.  Ada pesan indah dari Yesus: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Berdukacilah dengan orang yang berdukacita, dan menangislah dengan mereka yang menangis.

3. Spritualitas Ketulusan

Materialisme telah menjadi spirit dunia sekarang ini. Akibatnya, segala sesuatu dilihat  dari segi untung dan rugi. Spirit materialisme telah merusak ketulusan hati manusia sehingga  kebanyakan orang hanya akan melakukan sesuatu  untuk mendapatkan imbalan.

Spirit materialisme telah menciptakan sistem dan falsafah kerja  yang sangat materialistis. Ungkapan-ungkapan yang sungguh-sungguh sangat materialistis sudah tidak tabu lagi, bahkan sudah menjadi prinsip-prinsip hidup sebagian orang, misalnya: ada uang urusan lancar,  kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah? Biaya resmi dan biaya tak resmi. Ungkapan-ungkapan yang klasik: waktu adalah uang, uang adalah raja, uang bisa mengatur segalanya, pun semakin menjadi kenyataan. Bahkan tidak jarang ada yang menganggap rejeki jika ada anggota masyarakat tersangkut masalah hukum.

Realitas materialisme di zaman ini menuntut umat Kristiani untuk tetap menjunjung tinggi dan mengedepankan sikap tulus.  Tulus dalam     hidup bermasyarakat, tulus dalam berpolitik, tulus dalam menjalankan bisnis, berhati tulus dalam melaksanakan tugas-tugas yang berkenaan dengan kepentingan sesama manusia, dan tulus dalam memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap negara.

Zaman materialisme ini pada satu sisi merupakan ujian terhadap  ketulusan hati umat Kristiani,  tetapi pada sisi yang lain,  merupakan suatu tantangan dan dorongan untuk semakin menumbuhkan dan memperkuat mentalitas Kristiani dengan cara melayani, memberi, mengabdi, menolong sesama,  bahkan berkorban tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Yesus berpesan: hendaklah kamu tulus seperti merpati.

III. KONKLUSI

Apakah yang membedakan Yesus dari tokoh-tokoh agama yang lain? Nilai-nilai hidup-Nya: rendah hati, menjadi sesama, dan tulus hati.    Dan nilai-nilai itulah yang membuat nilai-nilai moral dan iman Kristiani berbeda dari yang lain. Yesus tentu berharap dapat melihat semua pengikut-Nya bersedia untuk mengikuti pola hidup dan pelayanan Yesus-Nya. Dan dunia sedang menanti untuk melihat Yesus dapat menampakkan diri-Nya kembali melalui umat Kristiani.

praying hands

DOA-DOA MISTIKISME

Di antara semua aktivitas keagamaan yang bersifat ibadah, barangkali berdoa adalah aktivitas yang paling mudah dilakukan. Paling mudah karena dapat dilakukan oleh setiap orang mulai dari anak kecil sampai orang yang sudah lanjut usia, dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, dapat dilakukan bersama-sama atau seorang diri, dan dilakukan berdasarkan keyakinan masing-masing. Mungkin yang lebih  menarik perhatian lagi yaitu bahwa orang-orang yang berdoa tidak lagi hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tetapi sebagian orang beriman menjadikan kegiatan berdoa sebagai suatu bentuk pelayanan khusus kepada sesama.

Mungkin karena begitu mudahnya dilakukan,  sehingga dengan mudah pula orang menciptakan berbagai variasi seperti: variasi kata-kata di dalam berdoa,  variasi gaya atau model-model berdoa, dan variasi ritual-ritual atau upacara-upaca  doa. Semua variasi tersebut  oke-oke saja selama  dilakukan secara normal dengan tetap pada esensi berdoa yaitu suatu pemujaan dan pengagungan pada Tuhan, suatu sikap pengharapan dan  kepasrahan  pada kemahakuasaan Tuhan, dan suatu wujud keyakinan  pada nama Yesus sebagai satu-satunya  kekuatan yang membuat setiap doa kita berhasil.

Tetapi masalah muncul ketika hal-hal yang seharusnya menjadi esensi di dalam berdoa tersebut justru diubah atau digeser dan diganti dengan unsur-unsur yang sebenarnya hanya variasi. Dan berdoa bisa berubah menjadi salah kaprah secara serius,  bahkan bisa menjadi sangat berbahaya ketika unsur-unsur yang non Alkitab justru dijadikan sebagai prinsip atau  prinsip di dalam berdoa atau mendoakan.

Salah satu di antara banyak kecenderungan yang salah kaprah di dalam berdoa, dan yang harus diwaspadai bahkan dikritisi oleh orang-orang Kristen yang bijaksana adalah pola-pola, prinsip-prinsip, dan spiritualitas mistikisme.  Bahkan jika kita mengamati secara kritis, saat ini mistikisme bukan lagi hanya berupa kecenderungan tetapi sudah menjadi suatu fenomena yang nyata di dalam lingkungan gereja. Karena bersifat mistik – rahasia – spirit –  sehingga tanpa disadari mistikisme sudah masuk dan membaur jadi satu dengan berbagai aktivitas doa,  ibadah, dan pelayanan yang dilakukan orang-orang Kristen pada umumnya,  dan  khususnya hamba-hamba Tuhan.

TENTANG MISTIKISME

Anda mungkin merasa sebagai seorang Kristen yang masih murni karena tidak pernah masuk ke dalam dunia mistik, tidak pernah belajar masalah-masalah mistik,  tidak percaya pada hal-hal yang mistik. Bahkan mungkin Anda justru pernah mentobatkan atau melakukan doa-doa pelepasan dari mistik, serta giat melawan unsur-unsur mistik.

Tetapi tunggu dulu! Di dalam kenyataannya, ada banyak orang yang sesunguhnya mempraktekkan pola-pola mistikisme tetapi tidak menyadari karena mereka tidak memahami bagaimana dan apa sesungguhnya yang disebut mistikisme itu. Untuk mengetahui apakah seseorang atau hamba Tuhan, penginjil, gembala  jemaat, aktivis gereja, bahkan sebuah gereja masuk dalam kategori mistikisme, Anda perlu mengetahui lebih dahulu ciri-ciri, karakter, perilaku, prinsip-prinsip, dan gaya atau  praktek-praktek mistikisme.

Apa Mistikisme Itu?

Mistikisme – dari kata mistik  yang artinya rahasia – adalah ajaran atau  kepercayaan yang selalu berkonsentrasi dan berorientasi pada dunia roh atau alam rohani. Suatu doktrin yang menekankan akan adanya hubungan pribadi yang intim dengan oknum Ilahi. Mistikisme menggabungkan atau menyatukan kekuatan mental dengan roh alam semesta.

Ciri-ciri Mistikisme:

Lalu bagaimana kita bisa membedakan atau memahami apakah suatu kegiatan berdoa, kegiatan beribadah, atau pelayanan seorang hamba Tuhan mengandung unsur-unsur mistikisme atau tidak? Bagaimana Anda bisa membedakan apakah doa, ibadah, dan pelayanan itu masih murni atau sudah terkontaminasi atau kena polusi mistiksme?  Berikut ini, saya ingin menjelaskan kepada Anda ada  dua hal yang menjadi ciri-ciri khas di dalam mistikisme.

globe1. Pewahyuan Khusus di Luar atau Selain Alkitab

Golongan mistikisme menyatakan bahwa ada pewahyuan khusus di luar atau selain Alkitab. Menurut mereka, Allah masih terus berfirman secara langsung kepada manusia seperti kepada para nabi dan hamba-hamba Tuhan di dalam Alkitab. Allah masih bisa berbicara langsung ke dalam hati,  bisa melalui penglihatan-penglihatan, mimpi-mimpi. Singkatnya,   Allah masih menyampaikan pesan-pesan di luar dari yang tertulis di dalam Alkitab, atau istilah populernya Allah berbicara terpisah dan di luar dari Alkitab

2. Pengalaman-pengalaman Mistik

Mistikisme sangat menekankan pengalaman-pengalaman mistik yang menakjubkan, seperti penglihatan-penglihatan dan mujizat-mujizat, atau karunia-karunia yang disebut luar biasa. Mereka menggunakan bermacam-macam alat, benda, sarana, atau ritual untuk menghasilkan mujizat.  Mereka mempercayai bahwa melalui dan di dalam alat-alat, sarana-sarana, dan ritual-ritual itu kuasa supranatural dapat dinyatakan.

Catatan: Ciri-ciri ini adalah hasil penelitian dari para teolog tingkat dunia,  antara lain adalah: Karl Barth, Brunner, Cullmann, Bultmann, Bonhoeffer, Moltman, Paul Tillich, Pannenberg, dll. Karya-karya mereka sangat berpengaruh dan menjadi acuan di sekolah-sekolah teologia di seluruh dunia…

PRAKTEK-PRAKTEK MISTIKISME

Anda mungkin sedang berpikir dan bertanya-tanya: Apakah sekarang sudah ada gejala-gejala, atau unsur-unsur mistikisme di dalam gereja di sekitar kita? Kalau sudah ada, lalu bagaimana atau seperti apa praktek-praktek mistikisme di dalam gereja masa kini? Saya ingin menegaskan bahwa yang kita bicarakan di sini sekarang bukan mistikisme di luar gereja atau di luar kekristenan, tetapi justru fenomena atau spirit mistikisme yang di dalam gereja atau lingkungan Kristen.

Bertolak dari ciri-ciri yang saya sudah jelaskan tadi, saya ingin menunjukkan kepada Anda fenomena mistikisme yang sudah lama membudaya di dalam lingkungan Kristen, di mimbar-mimbar gereja, dalam kegiatan-kegiatan penginjilan. Bahkan untuk gereja-gereja tertentu, unsur-unsur mistikisme sudah cenderung menjadi doktrin, khususnya di dalam gereja-gereja aliran Kharismatik.

Pertama: Pewahyuan di Luar Alkitab

Anda mungkin pernah atau malah sering mendengar ada hamba-hamba Tuhan yang mengatakan seperti ini:  ‘Ketika saya berdoa, Tuhan berbicara kepada saya  begini….., saat saya sedang menyembah,  Allah memberi pesan begini……, Roh Tuhan berbicara kepada saya begini….., saya mendapat mimpi dari Tuhan dan artinya ini …… , saya mendapat penglihatan atau visi dari Tuhan seperti ini dan itu… dst…

Berapa kali Anda telah mendengar pernyataan-pernyataan seperti ini? Apakah Anda percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi? Apakah Anda percaya pernyataan-pernyataan seperti ini? Dan apakah Anda meresponya dengan serius?  Saya tidak tahu dari siapa Anda pernah mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu, dan saya juga tidak peduli siapa pun atau apapun jabatan rohani orang yang sering mengatas namakan Tuhan. Tetapi silahkan Anda membaca dan renungkan Firman Allah ini:  Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri – Yeremia 14:14. Selanjutnya, Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri – Yeremia 23:26 -27.

Soal pernyataan-pernyataan atau pengakuan-pengakuan bahwa mereka mendapat penglihatan Tuhan saat mereka berdoa – dan sering pula mereka  menyatakan langsung ketika ibadah doa sedang berlangsung bahwa mereka mendapat penglihatan – jangan Anda langsung terkagum-kagum dan mengamini. Silahkan Anda membaca dan renungkan ayat Firman Tuhan ini:  Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri, yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? Yeremia 23:25-27.

Perhatikan bahwa para nabi dan imam yang bernubuat ini adalah nabi sungguhan, bukan nabi palsu, tetapi nubuat-nubuat, pernyataan-pernyataan, atau pesan-pesan, mimpi-mimpi, dan penglihatan-penglihatan  yang mereka sampaikan adalah palsu, karena mereka mengatas namakan ‘dari Tuhan’ pada hal dari mereka sendiri. Atau dengan kata lain, apa yang mereka nyatakan dan gembar-gemborkan sebagai pesan-pesan dari Tuhan sesungguhnya hanyalah kata-kata atau pernyatan-pernyataan yang mereka karang sendiri,  dan apa yang mereka sebut sebagai mimpi dan penglihatan dari Tuhan sesungguhnya hanyalah rekaan hati atau khayalan dan fantasi mereka belaka. Dan inilah yang disebut mistikisme – dunia mistik.

Anda bisa menemukan paling sedikit 11 kali di dalam kitab Nabi Yeremia tentang nabi-nabi atau hamba-hamba Tuhan yang tanpa menyadari telah menjalankan praktek-praktek misikisme (mistik) dengan menyampaikan pesan, nubuat, mimpi, dan penglihatan yang mengatasnamakan Tuhan tetapi palsu – karena hanya rekaan hati, khayalan, dan fantasi (Yer. 5:31; 14:14; 20:6; 23:25-27; 27:10-16; 29:9,21, dll).

Saya ingin sekedar mengingatkan Anda: berhati-hatilah, karena pernyataan-pernyataan seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitab, dan sangat beresiko atau membahayakan bagi kemurnian iman dan keselamatan Anda. Praktek model-model atau cara-cara seperti ini, yang mengatasnamakan Tuhan tetapi dari mereka sendiri alias palsu, sudah terjadi sejak dulu, dan Alkitab sudah mengingatkan kepada kita. Jangan terlalu mudah percaya atau mengaminkannya.

Anda tentu bertanya-tanya di dalam hati saat ini: mengapa mereka melakukan hal-hal yang demikian? Apakah mereka – khususnya hamba-hamba Tuhan atau para aktivis gereja – tidak menyadari atau tidak merasa bersalah dalam melakukan hal-hal seperti itu? Ada beberapa motivasi atau tujuan-tujuan terselubung di balik pernyataan-pernyataan yang mengatas namakan  ‘dari Tuhan’:

1. Demi kewibawaan

Mereka mau membuat kata-kata atau khotbah mereka berwibawa.  Dengan mengatas namakan Tuhan, mereka ingin supaya perkataan, pernyataan, atau pesan-pesan yang mereka sampaikan dapat diterima oleh jemaat tanpa menyaringnya dengan akal sehat atau secara rasional. Sebab pada umumnya jemaat yang  belum cukup dewasa atau yang tidak kritis, sangat mudah untuk percaya apa saja yang dikatakan oleh hamba Tuhan, tanpa mereka menyadari bahwa mereka sedang diperdaya dengan ungkapan ‘pesan dari Tuhan’.

Dengan jujur saya ingin mengatakan kepada Anda sekalian bahwa  dari sudut pandang psikologis rohani, model-model atau praktek-praktek  seperti ini adalah cara yang halus untuk memanipulasi pernyataan atau pesan-pesan yang disampaikan oleh hamba Tuhan dengan harapan supaya  khotbahnya berwibawa. Dengan kata lain, si pembawa pesan – dalam hal ini mungkin hamba Tuhan – berharap atau berpikir bahwa dengan mengatakan : saya mendapat pesan dari Tuhan, Tuhan berbicara kepada saya, atau saya diberi penglihatan dari Tuhan, jemaat akan mempercayai dan mengaguminya dirinya. Tepat seperti yang dikatakan Rasul Paulus: sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus – Fil. 2:21

2. Pemaksaan Kehendak

Dengan mengatasnamakan ‘dari Tuhan’ atau menggunakan pernyataan-pernyataan: ini dari Tuhan, saya dapat pesan dari Tuhan, saya mendapat visi atau mimpi dari Tuhan untuk jemaat – hamba Tuhan yang bersangkutan memaksakan secara halus keinginan, kehendak, dan rencananya. Dengan cara ini secara tidak langsung sebenarnya si hamba Tuhan mau menekan, memaksa, dan bahkan setengah mengancam jemaat untuk mempercayai apa saja yang dikatakan atau dikhotbahkannya. Pada hal kenyataannya itu bukan Firman Tuhan melainkan kemauan, kehendak, dan rencana si hamba Tuhan atau  pengkhotbah itu sendiri.

3. Demi Citra Diri

Mereka mau membangun citra diri sebagai orang yang penting. Salah satu kebutuhan mendasar di dalam diri manusia adalah ‘perasaan dianggap penting’. Hamba Tuhan yang selalu mengatakan: Tuhan bicara pada saya, Tuhan berpesan kepada saya,  saya berjumpa dengan Tuhan, Roh Tuhan mengatakan padaku, saya mendapat penglihatan, dst… adalah orang yang sedang merekayasa citra dirinya di depan orang lain supaya ia dianggap penting, dihargai, dihormati, atau diposisikan sebagai orang yang istimewa.

Saya berharap Anda baca kembali dan menggaris bawahi bagian akhir dari Yer. 14:14 tadi:  Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri”. Renungkan selalu ungkapan terakhir ini. Inilah yang disebut mistikisme.

Kedua:   Kuasa Supranatural

Tadi saya sudah menjelaskan bahwa kelompok mistikisme Kristen sangat menekankan mujizat-mujizat atau karunia-karunia yang disebut luar biasa. Mereka menggunakan bermacam-macam benda, alat, atau ritual sebagai sarana untuk menghasilkan mujizat-mujizat. Mereka mempercayai bahwa di dalam dan melalui alat-alat, benda-benda, dan ritual-ritual itu kita dapat mengalami kuasa supranatural dan mujizat-mujizat yang luar biasa. Beberapa alat atau benda yang selama ini sudah lazim digunakan yaitu:

1. Tali Rafia dan Penyembuhan

Pernahkah Anda membaca tentang kebaktian penyembuhan dengan menggunakan tali rafia? Ujung tali rafia itu di pegang oleh si hamba Tuhan – mistikus –  di mimbar atau panggung sebagai pusat, lalu tali rafia itu direntangkan ke tengah-tengah jemaat. Siapa yang mau meminta atau ingin mengalami mujizat kesembuhan harus memegang tali rafia sambil berdoa. Mengapa harus tali rafia? Si pendoa penyembuhan percaya bahwa kuasa kesembuhan dari Tuhan pertama-tama turun ke atas dirinya – sebagai agen kuasa – lalu dari dirinya mengalir melalui tali rafia kepada orang-orang yang sakit.

2. Minyak dan Kuasa Supranatural

Apakah Anda pernah mendengar atau melihat fenomena minyak urapan? Pertama-tama minyak dibawa kepada hamba Tuhan yang merasa – dan dianggap – bahwa ia memiliki kuasa dan otoritas khusus dari Tuhan untuk mendoakan dan mengubah sifat atau zat minyak goreng menjadi minyak urapan. Setelah didoakan, minyak itu disakralkan, dianggap suci, keramat, dan dipercayai mengandung kuasa yang luar biasa.

Selanjutnya minyak ‘sakral’ itu dapat digunakan untuk semua masalah: untuk mengusir setan-setan, untuk penyembuhan segala penyakit, untuk menyucikan dapur, kamar-kamar, halaman rumah, kantor, mobil, untuk membuat  toko atau warung menjadi laris, untuk membersihkan sumur, sumber-sumber air, atau kolam, dan hal-hal lain.   Singkatnya, minyak itu dapat digunakan untuk mengatasi segala masalah hidup, karena dengan dan melalui minyak itu kuasa supranatural akan mengalir.

Para mistikus – penganut mistikisme Kristen – membawa minyak ‘sakral’ itu ke mana-mana untuk digunakan sewaktu-waktu jika ada situasi-situasi sulit atau masalah-masalah hidup yang muncul. Mereka juga  mengirim minyak yang disakralkan itu ke teman-teman atau keluarga yang sakit atau yang sedang menghadapi persoalan-persoalan, atau untuk disimpan sebagai persiapan bila ada keadaan-keadaan darurat.

3. Roti dan Anggur dengan Kuasa MistisRecieving Communion #2

Bagaimana golongan mistikisme memahami, memperlakukan dan mempersepsi akan roti dan anggur yang digunakan dalam ibadah perjamuan kudus? Bagi mistikus, setelah roti dan anggur didoakan atau diberkati, roti dan anggur itu menjadi sungguh-sungguh tubuh dan darah Yesus, sehinga diyakini mengandung kuasa supranatural atau kekuatan mistis/rahasia – yang dapat menghasilkan mujizat untuk menyembuhkan atau mengusir roh-roh jahat. Selanjutnya roti dan anggur itu dibawa kepada orang-orang sakit sebagai alat untuk menyembuhkan, atau dibawa ke tempat-tempat yang dianggap kramat untuk mengusir-roh-roh jahat.

Mungkin sepintas lalu Anda tidak melihat adanya hal-hal yang negatif di dalam praktek-praktek tali rafia, minyak sakral, serta roti dan anggur seperti yang saya jelaskan tadi. Mungkin Anda bisa mengatakan bahwa ada banyak hasil positif dari praktek-praktek tersebut, dan saya juga setuju akan hal itu. Akan tetapi bahwa ada hasil-hasil yang positif dari praktek-praktek yang bersifat mistis tersebut, tidak berarti bahwa semua hal itu adalah kebenaran atau sesuai dengan Alkitab.

Coba Anda melihatnya secara kritis dan merenungkannya secara mendalam, apakah ada kesamaan antara praktek-praktek mistikisme Kristen dengan  praktek-praktek mistikisme non Kristen? Apakah bedanya penggunaan tali rafia dan minyak sakral dengan batu ajaibnya Ponari yang diyakini bisa menyembuhkan segala penyakit? Apakah bedanya kepercayaan pada kuasa mistis di dalam roti dan anggur dengan kepercayaan pada kuasa mistis di dalam benda-benda yang dianggap mengandung kekuatan mistis dari kuil-kuil atau klenteng seperti: abu, air,dll? Apaka bedanya penggunaan-penggunaan minyak urapan yang disakaralkan dengan penggunaan benda-benda keramat dari para suhu, dukun,  atau dari gunung Kawi?

Jika Anda melihat secara jujur semua fenomena itu dari kaca mata Alkitab, Anda akan menemukan kebenaran yang Alkitabiah yaitu bahwa praktek-praktek model mistikisme di dalam lingkungan gereja sekarang ini, sebenarnya sedang memunculkan atau menciptakan ‘tuhan-tuhan’ baru atau ‘allah-allah’ lain di samping Tuhan Yesus, tanpa disadari oleh yang oleh gereja atau oleh yang melakukannya.

Saya sangat yakin bahwa Anda adalah seorang beriman yang rindu   membangun hidup dan iman di atas prinsip-prinsip kebenaran Alkitab yang murni. Saya juga yakin Anda pasti seorang yang Kristen yang memiliki niat dan tujuan yang tulus untuk menyembah dan melayani Tuhan dengan cara-cara yang Alkitabiah.  Melalui kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk mulai beriman secara kritis dengan menggunakan akal sehat di dalam memahami Alkitab.

Sekarang saya akan mengajak Anda untuk melihat dan mendengar apa dan bagaimana kata Alkitab tentang berdoa, doa-doa penyembuhan, dan manifestasi kuasa supranatural.

1. Berdoa

Anda bisa menemukan banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa berdoa harus dan hanya dilakukan dengan iman dan di dalam nama Tuhan Yesus. Penulis Surat Ibrani menegaskan bahwa orang yang berpaling kepada Tuhan untuk berdoa, harus memiliki iman yang kokoh kepada kemahakuasaan Tuhan: Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia – Ibr. 11:6.  Yesus menegaskan bahwa jika kita berdoa di dalam nama-Nya, Ia akan mengaruniakan apa yang kita minta: dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yoh. 14:13-14, dan segala sesuatu yang kita doakan di dalam nama Yesus, akan dikabulkan oleh Bapa – Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku – Yoh. 16:23. Sedangkan Yakobus menyatakan bahwa doa-doa Elia dikabulkan karena kesungguhan imannya: Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya. Yak. 5:17-18.

Dari ayat-ayat Firman Tuhan ini kiranya menjadi jelas bahwa dasar doa yang benar adalah iman atau mengimani kemahakuasaan Tuhan, sedangkan  kekuatan dan kuasa doa adalah nama Yesus. Kenyataan ini secara langsung menolak atau melawan model-model praktek doa-doa mistikisme yang menggunakan alat-alat, benda-benda, serta ritual-ritual khusus untuk membuat doa-doanya efektif atau berhasil.  Penggunaan benda-benda lain untuk berdoa adalah pelecehan kepada nama Yesus.

2. Kuasa Kesembuhan

Jika para mistikus menggunakan benda-benda seperti: tali rafia, minyak, serta roti dan anggur, dan lain-lain di dalam doa-doa penyembuhan,  di Alkitab kita membaca hal yang sebaliknya, yaitu bahwa kesembuhan bersumber dari Tuhan, dan datang lansung dari Tuhan, karena Tuhan adalah tabib atau Sang Penyembuh: Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.Kel. 15:26. Nabi Yesaya menyatakan bahwa kuasa kesembuhan adalah bilur-bilur Yesus:   Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilurbilurnya kita menjadi sembuh. Yes. 53:5. Dan Yesus sendiri menyatakan bahwa nama-Nya mengandung kuasa kesembuhan: Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh – Markus 16:17-18.

Rangkaian pernyataan Alkitab ini menyebutkan bahwa kuasa kesembuhan sepenuhnya ada di dalam Allah, dan mengalir kepada kita melalui dan di dalam nama Yesus.  Jika demikian, maka semua model, cara, atau praktek-praktek doa penyembuhan yang menggunakan alat-alat atau benda-benda lain sebagai sarana penyembuhan adalah mistik atau mistikisme.  Doa-doa penyembuhan dengan menggunakan benda-benda lain, ditambah dengan   nama Yesus adalah murni mistikisme.  Anda masih ingat salah satu prinsip di dalam mistikisme? Yaitu menyatukan atau mengawinkan antara roh alam semesta dangan Roh Ilahi.  Di sini tampak dengan jelas bahwa di dalam doa-doa penyembuhan model mistikisme Tuhan disejajarkan dengan benda-benda, suatu pemberhalaan, atau pendewaan terhadap  benda-benda, alat-alat, atau ritual-ritual: apakah itu tali rafia, minyak urapan, roti dan anggur, dll…  Dengan kata lain doa-doa penyembuhan yang menonjolkan pemakaian benda-benda dan alat-alat yang dianggap sakral, sama dengan menciptakan tuhan-tuhan dan allah-allah lain di samping Tuhan Yesus Kristus.

Berangkat dari kenyataan-kenyataan demikian, saya ingin bertanya kepada Anda: Apakah Anda bisa melihat atau menyadari bahwa praktek-praktek mistikisme Kristen ini secara terang-terangan melanggar Hukum atau Firman Tuhan?   Hukum  Tuhan mengatakan: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Kel. 20:3. Tetapi para mistikus justru menciptakan allah-allah lain – berupa benda-benda yang disakralkan.

Apakah Anda bisa memahami dan menyadari bahwa penggunaan benda-benda sakral untuk doa-doa penyembuhan merupakan suatu sikap penyangkalan dan penolakan secara langsung terhadap otoritas tunggal nama Yesus di bawa kolong langit ini? Firman Tuhan menegaskan: Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan – Kis. 4:12.  Tetapi praktek pelayanan para mistikus menjawab bahwa masih ada nama-nama lain di bumi ini yang bisa menyelamatkan atau yang melaluinya sakit penyakit bisa disembuhkan:  namanya rafia, namanya minyak, namanya roti dan anggur, dll.

3. Kuasa Supranatural

Tadi saya sudah menjelaskan kepada Anda bahwa para mistikus mempercayai bahwa minyak yang sudah disakralkan melalui doa, dapat digunakan untuk mengatasi segala masalah dan situasi hidup manusia, karena kuasa supranatural mengalir melalui atau dengan perantaraan minyak.  Minyak yang sudah didoakan dapat digunakan untuk mengatasi  semua masalah yang timbul, dapat digunakan untuk pembersihan,  digunakan untuk mengusir setan-setan atau hal-hal yang jahat, dan seterusnya.

Saya ingin bertanya pada Anda! Menurut Anda, apakah praktek-praktek seperti ini tidak merendahkan atau melecehkan kuasa darah dan bilur serta nama Tuhan Yesus?  Rasul Paulus mengatakan bahwa segala makhluk bertekuk lutut pada nama Yesus:  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Fil. 2:9-11. Tetapi mistikisme – praktek-praktek  minyak sakral – justru mengungkapkan bahwa masih ada kekuatan lain yang bisa mengatasi segalanya dan mampu menundukkan segala roh jahat, yaitu minyak sakral, tali rafia, dan yang lainnya?

Menurut Anda, apakah kepercayaan dan praktek penggunaan benda-benda untuk menghadirkan kuasa supranatural demi mengatasi segala masalah dan mengusir setan-setan tidak kontradiksi dengan pernyataan Yesus bahwa kuasa supranatural itu datang melalui Roh Kudus? Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Kis. 1:8. Tetapi praktek mistikisme – pemakaian minyak   untuk segala segala masalah dan situasi – menunjukkan bahwa mereka (para mistikus) menerima kuasa supranatural dan mengadakan mujizat-mujizat melalui atau dengan menggunakan minyak urapan.

Dari perbandingan-perbandingan ini, saya berharap Anda bisa melihat dengan jelas perbedaan bahkan kontradiksi yang sangat besar antara ajaran dan contoh-contoh yang diberikan Alkitab tentang berdoa atau doa-doa, dengan fenomena-fenomena dan praktek-praktek doa-doa mistikisme yang sekarang justru banyak didemonstrasikan di dalam gereja atau dari mimbar-mimbar penginjilan.

Sepanjang uraian ini, saya berkali-kali mengajukan pertanyaan pada Anda dengan maksud, supaya Anda mulai menggunakan akal sehat untuk menemukan kebenaran-kebenaran Alkitab. Saya berharap Anda mulai belajar membangun prinsip-prinsip iman yang kokoh dan murni di atas fondasi batu karang yaitu  Firman Allah yang tertulis  – Alkitab. Bangunlah kehidupan iman Anda di atas kebenaran yang murni, dan bukan di atas pernyataan-pernyataan atau praktek-praktek mistik. Jangan pertaruhkan iman dan keselamatan Anda hanya karena Anda melihat tanda-tanda atau praktek-praktek pelayanan yang sensasional.

Renugnkan ini: Semua yang kelihatan baik, hebat, dan ajaib,  tidak selalu berarti   benar atau kebenaran. Sebaliknya sesuatu yang benar atau kebenaran tidak selalu  baik bagi semua orang. Kebenaran tidak akan pernah memuaskan semua orang.

KESIMPULAN

Kiranya orang-orang Kristen mulai menyadari bahwa mistikisme tidak hanya merupakan ritual-ritual dan praktek-praktek kepercayaan di dalam dunia animisme/kafir yang sarat dengan unsur-unsur mistik dan berhala, tetapi sekarang tanpa disadari, unsur-unsur mistik dan berhala sudah masuk dan bahkan sudah berdiri di ‘tempat-tempat kudus’ di dalam gereja. Kiranya Anda mulai berhati-hati dan bersikap kritis di dalam meresponi setiap fenomena yang muncul di dalam gereja atau di sekitar Anda.

Sebagai akhir dari penjelasan ini, saya ingin mengutip nasehat Bang Napi:  “Waspadalah! Waspadalah! Kejahatan ada di mana-mana……

Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: