Oleh: EL-Asah | 26 Mei 2011

PERTOLONGAN DARI ATAS

Maz. 124:1-8

Mazmur 124 berisi perenungan berbagai pengalaman hidup bangsa Israel masa lalu.  Hidup yang telah dilalui selalu dibayang-bayangi dengan bahaya. Namun mereka menyadari bahwa Allah berkarya secara terus menerus sepanjang sejarah hidup mereka.     

Pernyataan; Pertolongan kita dari Tuhan adalah prinsip iman, yang  memberi pengharapan, semangat hidup, dan jaminan bagi umat Allah.

I. Gambaran (figur) Sang Penolong

  1. Dia adalah Sang Pencipta langit dan bumi. at. 8; Sebagai Penciptan Ia adalah pengada dan pemilik segala sesuatu
  2. Penguasa mutlak atas alam semesta –Maz.121:1 – segala kekuatan tunduk kepada-Nya.

II.      Bentuk-bentuk pertolongan

  1.  Keberpihakan – at. 1-2.

Dalam situasi-situasi khusus, Allah menolong umat-Nya dengan cara memihak/berpihak

  1. Ketika umat-Nya menghadapi perlawanan, ancaman, Allah tampil menggantikan mereka; Kel. 14:13-14.
  2. Ketika umat-Nya mengalami penindasan, Allah bertindak keras membela mereka; Kel. 14:30-31.
  3. Ketika wabah maut merenggut nyawa ribuan orang, Allah menyelamatkan umat-Nya; Maz. 91:5-8.

Mengapa Allah berpihak?  Allah sebagai Penguasa mutlak, bebas menentukan apa yang Dia akan lakukan, dan apapun yang dilakukannya selalu benar; Rom. 9:13.

2. Perlakuan secara khusus – at. 4-6

Allah selalu memperlakukan umat-Nya berbeda dari semua manusia.

  1. Mengangkat mereka saat jatuh; Maz.37:23-24
  2. Mencukupi sehingga tidak meminta-minta – Maz. 37:25-26
  3. Menjaga dengan setia; Maz. 121:5-8.
  4. Memaafkan dan tidak menghukum –Maz. 32:5, 103:3

III. Pertolongan Bersyarat.

Pertolongan dari Tuhan – memang berdasarkan kehendak-Nya – tetapi bukan berarti tanpa syarat.  Syarat-syarat.

  1. Takut akan Tuhan. Maz. 128:1-6, suami yang takut  Tuhan, keluarganya diberkati.
  2. Tulus hati – Maz. 24:4-5, orang yang tulus akan menerima berkat dan pembelaan
  3. Setia  seumur hidup – Maz. 27:4-5, yang akan dilindungi dari bahaya-bahaya maut.

Konklusi

Kita hanya bisa mengharapkan dan mengandalkan pertolongan dari Tuhan, sebab Dialah satu-satunya yang memiliki kapasitas sebagai Penolong. Ia menolong dengan cara-Nya sendiri. Orang-orang yang mengharapkan pertolongan dari Tuhan harus mempersiapkan diri dengan cara: takut akan Tuhan   tulus hati, dan setia sampai akhir.

Oleh: EL-Asah | 7 Februari 2011

DOA-DOA MISTIKISME

Di antara semua aktivitas keagamaan yang bersifat ibadah, barangkali berdoa adalah aktivitas yang paling mudah dilakukan. Paling mudah karena dapat dilakukan oleh setiap orang mulai dari anak kecil sampai orang yang sudah lanjut usia, dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, dapat dilakukan bersama-sama atau seorang diri, dan dilakukan berdasarkan keyakinan masing-masing. Mungkin yang lebih  menarik perhatian lagi yaitu bahwa orang-orang yang berdoa tidak lagi hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tetapi sebagian orang beriman menjadikan kegiatan berdoa sebagai suatu bentuk pelayanan khusus kepada sesama.

Mungkin karena begitu mudahnya dilakukan,  sehingga dengan mudah pula orang menciptakan berbagai variasi seperti: variasi kata-kata di dalam berdoa,  variasi gaya atau model-model berdoa, dan variasi ritual-ritual atau upacara-upaca  doa. Semua variasi tersebut  oke-oke saja selama  dilakukan secara normal dengan tetap pada esensi berdoa yaitu suatu pemujaan dan pengagungan pada Tuhan, suatu sikap pengharapan dan  kepasrahan  pada kemahakuasaan Tuhan, dan suatu wujud keyakinan  pada nama Yesus sebagai satu-satunya  kekuatan yang membuat setiap doa kita berhasil.

Tetapi masalah muncul ketika hal-hal yang seharusnya menjadi esensi di dalam berdoa tersebut justru diubah atau digeser dan diganti dengan unsur-unsur yang sebenarnya hanya variasi. Dan berdoa bisa berubah menjadi salah kaprah secara serius,  bahkan bisa menjadi sangat berbahaya ketika unsur-unsur yang non Alkitab justru dijadikan sebagai prinsip atau  prinsip di dalam berdoa atau mendoakan.

Salah satu di antara banyak kecenderungan yang salah kaprah di dalam berdoa, dan yang harus diwaspadai bahkan dikritisi oleh orang-orang Kristen yang bijaksana adalah pola-pola, prinsip-prinsip, dan spiritualitas mistikisme.  Bahkan jika kita mengamati secara kritis, saat ini mistikisme bukan lagi hanya berupa kecenderungan tetapi sudah menjadi suatu fenomena yang nyata di dalam lingkungan gereja. Karena bersifat mistik – rahasia – spirit –  sehingga tanpa disadari mistikisme sudah masuk dan membaur jadi satu dengan berbagai aktivitas doa,  ibadah, dan pelayanan yang dilakukan orang-orang Kristen pada umumnya,  dan  khususnya hamba-hamba Tuhan.

TENTANG MISTIKISME

Anda mungkin merasa sebagai seorang Kristen yang masih murni karena tidak pernah masuk ke dalam dunia mistik, tidak pernah belajar masalah-masalah mistik,  tidak percaya pada hal-hal yang mistik. Bahkan mungkin Anda justru pernah mentobatkan atau melakukan doa-doa pelepasan dari mistik, serta giat melawan unsur-unsur mistik.

Tetapi tunggu dulu! Di dalam kenyataannya, ada banyak orang yang sesunguhnya mempraktekkan pola-pola mistikisme tetapi tidak menyadari karena mereka tidak memahami bagaimana dan apa sesungguhnya yang disebut mistikisme itu. Untuk mengetahui apakah seseorang atau hamba Tuhan, penginjil, gembala  jemaat, aktivis gereja, bahkan sebuah gereja masuk dalam kategori mistikisme, Anda perlu mengetahui lebih dahulu ciri-ciri, karakter, perilaku, prinsip-prinsip, dan gaya atau  praktek-praktek mistikisme.

Apa Mistikisme Itu?

Mistikisme – dari kata mistik  yang artinya rahasia – adalah ajaran atau  kepercayaan yang selalu berkonsentrasi dan berorientasi pada dunia roh atau alam rohani. Suatu doktrin yang menekankan akan adanya hubungan pribadi yang intim dengan oknum Ilahi. Mistikisme menggabungkan atau menyatukan kekuatan mental dengan roh alam semesta.

Ciri-ciri Mistikisme:

Lalu bagaimana kita bisa membedakan atau memahami apakah suatu kegiatan berdoa, kegiatan beribadah, atau pelayanan seorang hamba Tuhan mengandung unsur-unsur mistikisme atau tidak? Bagaimana Anda bisa membedakan apakah doa, ibadah, dan pelayanan itu masih murni atau sudah terkontaminasi atau kena polusi mistiksme?  Berikut ini, saya ingin menjelaskan kepada Anda ada  dua hal yang menjadi ciri-ciri khas di dalam mistikisme.

1.  Pewahyuan Khusus di Luar atau Selain Alkitab

Golongan mistikisme menyatakan bahwa ada pewahyuan khusus di luar atau selain Alkitab. Menurut mereka, Allah masih terus berfirman secara langsung kepada manusia seperti kepada para nabi dan hamba-hamba Tuhan di dalam Alkitab. Allah masih bisa berbicara langsung ke dalam hati,  bisa melalui penglihatan-penglihatan, mimpi-mimpi. Singkatnya,   Allah masih menyampaikan pesan-pesan di luar dari yang tertulis di dalam Alkitab, atau istilah populernya Allah berbicara terpisah dan di luar dari Alkitab

2. Pengalaman-pengalaman Mistik

Mistikisme sangat menekankan pengalaman-pengalaman mistik yang menakjubkan, seperti penglihatan-penglihatan dan mujizat-mujizat, atau karunia-karunia yang disebut luar biasa. Mereka menggunakan bermacam-macam alat, benda, sarana, atau ritual untuk menghasilkan mujizat.  Mereka mempercayai bahwa melalui dan di dalam alat-alat, sarana-sarana, dan ritual-ritual itu kuasa supranatural dapat dinyatakan.

Catatan: Ciri-ciri ini adalah hasil penelitian dari para teolog tingkat dunia,  antara lain adalah: Karl Barth, Brunner, Cullmann, Bultmann, Bonhoeffer, Moltman, Paul Tillich, Pannenberg, dll. Karya-karya mereka sangat berpengaruh dan menjadi acuan di sekolah-sekolah teologia di seluruh dunia…

PRAKTEK-PRAKTEK MISTIKISME

Anda mungkin sedang berpikir dan bertanya-tanya: Apakah sekarang sudah ada gejala-gejala, atau unsur-unsur mistikisme di dalam gereja di sekitar kita? Kalau sudah ada, lalu bagaimana atau seperti apa praktek-praktek mistikisme di dalam gereja masa kini? Saya ingin menegaskan bahwa yang kita bicarakan di sini sekarang bukan mistikisme di luar gereja atau di luar kekristenan, tetapi justru fenomena atau spirit mistikisme yang di dalam gereja atau lingkungan Kristen.

Bertolak dari ciri-ciri yang saya sudah jelaskan tadi, saya ingin menunjukkan kepada Anda fenomena mistikisme yang sudah lama membudaya di dalam lingkungan Kristen, di mimbar-mimbar gereja, dalam kegiatan-kegiatan penginjilan. Bahkan untuk gereja-gereja tertentu, unsur-unsur mistikisme sudah cenderung menjadi doktrin, khususnya di dalam gereja-gereja aliran Kharismatik.

Pertama: Pewahyuan di Luar Alkitab

Anda mungkin pernah atau malah sering mendengar ada hamba-hamba Tuhan yang mengatakan seperti ini:  ‘Ketika saya berdoa, Tuhan berbicara kepada saya  begini….., saat saya sedang menyembah,  Allah memberi pesan begini……, Roh Tuhan berbicara kepada saya begini….., saya mendapat mimpi dari Tuhan dan artinya ini …… , saya mendapat penglihatan atau visi dari Tuhan seperti ini dan itu… dst…

Berapa kali Anda telah mendengar pernyataan-pernyataan seperti ini? Apakah Anda percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi? Apakah Anda percaya pernyataan-pernyataan seperti ini? Dan apakah Anda meresponya dengan serius?  Saya tidak tahu dari siapa Anda pernah mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu, dan saya juga tidak peduli siapa pun atau apapun jabatan rohani orang yang sering mengatas namakan Tuhan. Tetapi silahkan Anda membaca dan renungkan Firman Allah ini:  Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri – Yeremia 14:14. Selanjutnya, Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri – Yeremia 23:26 -27.

Soal pernyataan-pernyataan atau pengakuan-pengakuan bahwa mereka mendapat penglihatan Tuhan saat mereka berdoa – dan sering pula mereka  menyatakan langsung ketika ibadah doa sedang berlangsung bahwa mereka mendapat penglihatan – jangan Anda langsung terkagum-kagum dan mengamini. Silahkan Anda membaca dan renungkan ayat Firman Tuhan ini:  Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri, yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? Yeremia 23:25-27.

Perhatikan bahwa para nabi dan imam yang bernubuat ini adalah nabi sungguhan, bukan nabi palsu, tetapi nubuat-nubuat, pernyataan-pernyataan, atau pesan-pesan, mimpi-mimpi, dan penglihatan-penglihatan  yang mereka sampaikan adalah palsu, karena mereka mengatas namakan ‘dari Tuhan’ pada hal dari mereka sendiri. Atau dengan kata lain, apa yang mereka nyatakan dan gembar-gemborkan sebagai pesan-pesan dari Tuhan sesungguhnya hanyalah kata-kata atau pernyatan-pernyataan yang mereka karang sendiri,  dan apa yang mereka sebut sebagai mimpi dan penglihatan dari Tuhan sesungguhnya hanyalah rekaan hati atau khayalan dan fantasi mereka belaka. Dan inilah yang disebut mistikisme – dunia mistik.

Anda bisa menemukan paling sedikit 11 kali di dalam kitab Nabi Yeremia tentang nabi-nabi atau hamba-hamba Tuhan yang tanpa menyadari telah menjalankan praktek-praktek misikisme (mistik) dengan menyampaikan pesan, nubuat, mimpi, dan penglihatan yang mengatasnamakan Tuhan tetapi palsu – karena hanya rekaan hati, khayalan, dan fantasi (Yer. 5:31; 14:14; 20:6; 23:25-27; 27:10-16; 29:9,21, dll).

Saya ingin sekedar mengingatkan Anda: berhati-hatilah, karena pernyataan-pernyataan seperti ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitab, dan sangat beresiko atau membahayakan bagi kemurnian iman dan keselamatan Anda. Praktek model-model atau cara-cara seperti ini, yang mengatasnamakan Tuhan tetapi dari mereka sendiri alias palsu, sudah terjadi sejak dulu, dan Alkitab sudah mengingatkan kepada kita. Jangan terlalu mudah percaya atau mengaminkannya.

Anda tentu bertanya-tanya di dalam hati saat ini: mengapa mereka melakukan hal-hal yang demikian? Apakah mereka – khususnya hamba-hamba Tuhan atau para aktivis gereja – tidak menyadari atau tidak merasa bersalah dalam melakukan hal-hal seperti itu? Ada beberapa motivasi atau tujuan-tujuan terselubung di balik pernyataan-pernyataan yang mengatas namakan  ‘dari Tuhan’:

1. Demi kewibawaan

Mereka mau membuat kata-kata atau khotbah mereka berwibawa.  Dengan mengatas namakan Tuhan, mereka ingin supaya perkataan, pernyataan, atau pesan-pesan yang mereka sampaikan dapat diterima oleh jemaat tanpa menyaringnya dengan akal sehat atau secara rasional. Sebab pada umumnya jemaat yang  belum cukup dewasa atau yang tidak kritis, sangat mudah untuk percaya apa saja yang dikatakan oleh hamba Tuhan, tanpa mereka menyadari bahwa mereka sedang diperdaya dengan ungkapan ‘pesan dari Tuhan’.

Dengan jujur saya ingin mengatakan kepada Anda sekalian bahwa  dari sudut pandang psikologis rohani, model-model atau praktek-praktek  seperti ini adalah cara yang halus untuk memanipulasi pernyataan atau pesan-pesan yang disampaikan oleh hamba Tuhan dengan harapan supaya  khotbahnya berwibawa. Dengan kata lain, si pembawa pesan – dalam hal ini mungkin hamba Tuhan – berharap atau berpikir bahwa dengan mengatakan : saya mendapat pesan dari Tuhan, Tuhan berbicara kepada saya, atau saya diberi penglihatan dari Tuhan, jemaat akan mempercayai dan mengaguminya dirinya. Tepat seperti yang dikatakan Rasul Paulus: sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus – Fil. 2:21

2. Pemaksaan Kehendak

Dengan mengatasnamakan ‘dari Tuhan’ atau menggunakan pernyataan-pernyataan: ini dari Tuhan, saya dapat pesan dari Tuhan, saya mendapat visi atau mimpi dari Tuhan untuk jemaat – hamba Tuhan yang bersangkutan memaksakan secara halus keinginan, kehendak, dan rencananya. Dengan cara ini secara tidak langsung sebenarnya si hamba Tuhan mau menekan, memaksa, dan bahkan setengah mengancam jemaat untuk mempercayai apa saja yang dikatakan atau dikhotbahkannya. Pada hal kenyataannya itu bukan Firman Tuhan melainkan kemauan, kehendak, dan rencana si hamba Tuhan atau  pengkhotbah itu sendiri.

3. Demi Citra Diri

Mereka mau membangun citra diri sebagai orang yang penting. Salah satu kebutuhan mendasar di dalam diri manusia adalah ‘perasaan dianggap penting’. Hamba Tuhan yang selalu mengatakan: Tuhan bicara pada saya, Tuhan berpesan kepada saya,  saya berjumpa dengan Tuhan, Roh Tuhan mengatakan padaku, saya mendapat penglihatan, dst… adalah orang yang sedang merekayasa citra dirinya di depan orang lain supaya ia dianggap penting, dihargai, dihormati, atau diposisikan sebagai orang yang istimewa.

Saya berharap Anda baca kembali dan menggaris bawahi bagian akhir dari Yer. 14:14 tadi:  Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri”. Renungkan selalu ungkapan terakhir ini. Inilah yang disebut mistikisme.

Kedua:   Kuasa Supranatural

Tadi saya sudah menjelaskan bahwa kelompok mistikisme Kristen sangat menekankan mujizat-mujizat atau karunia-karunia yang disebut luar biasa. Mereka menggunakan bermacam-macam benda, alat, atau ritual sebagai sarana untuk menghasilkan mujizat-mujizat. Mereka mempercayai bahwa di dalam dan melalui alat-alat, benda-benda, dan ritual-ritual itu kita dapat mengalami kuasa supranatural dan mujizat-mujizat yang luar biasa. Beberapa alat atau benda yang selama ini sudah lazim digunakan yaitu:

1. Tali Rafia dan Penyembuhan

Pernahkah Anda membaca tentang kebaktian penyembuhan dengan menggunakan tali rafia? Ujung tali rafia itu di pegang oleh si hamba Tuhan – mistikus –  di mimbar atau panggung sebagai pusat, lalu tali rafia itu direntangkan ke tengah-tengah jemaat. Siapa yang mau meminta atau ingin mengalami mujizat kesembuhan harus memegang tali rafia sambil berdoa. Mengapa harus tali rafia? Si pendoa penyembuhan percaya bahwa kuasa kesembuhan dari Tuhan pertama-tama turun ke atas dirinya – sebagai agen kuasa – lalu dari dirinya mengalir melalui tali rafia kepada orang-orang yang sakit.

2. Minyak dan Kuasa Supranatural

Apakah Anda pernah mendengar atau melihat fenomena minyak urapan? Pertama-tama minyak dibawa kepada hamba Tuhan yang merasa – dan dianggap – bahwa ia memiliki kuasa dan otoritas khusus dari Tuhan untuk mendoakan dan mengubah sifat atau zat minyak goreng menjadi minyak urapan. Setelah didoakan, minyak itu disakralkan, dianggap suci, keramat, dan dipercayai mengandung kuasa yang luar biasa.

Selanjutnya minyak ‘sakral’ itu dapat digunakan untuk semua masalah: untuk mengusir setan-setan, untuk penyembuhan segala penyakit, untuk menyucikan dapur, kamar-kamar, halaman rumah, kantor, mobil, untuk membuat  toko atau warung menjadi laris, untuk membersihkan sumur, sumber-sumber air, atau kolam, dan hal-hal lain.   Singkatnya, minyak itu dapat digunakan untuk mengatasi segala masalah hidup, karena dengan dan melalui minyak itu kuasa supranatural akan mengalir.

Para mistikus – penganut mistikisme Kristen – membawa minyak ‘sakral’ itu ke mana-mana untuk digunakan sewaktu-waktu jika ada situasi-situasi sulit atau masalah-masalah hidup yang muncul. Mereka juga  mengirim minyak yang disakralkan itu ke teman-teman atau keluarga yang sakit atau yang sedang menghadapi persoalan-persoalan, atau untuk disimpan sebagai persiapan bila ada keadaan-keadaan darurat.

3. Roti dan Anggur dengan Kuasa Mistis

Bagaimana golongan mistikisme memahami, memperlakukan dan mempersepsi akan roti dan anggur yang digunakan dalam ibadah perjamuan kudus? Bagi mistikus, setelah roti dan anggur didoakan atau diberkati, roti dan anggur itu menjadi sungguh-sungguh tubuh dan darah Yesus, sehinga diyakini mengandung kuasa supranatural atau kekuatan mistis/rahasia – yang dapat menghasilkan mujizat untuk menyembuhkan atau mengusir roh-roh jahat. Selanjutnya roti dan anggur itu dibawa kepada orang-orang sakit sebagai alat untuk menyembuhkan, atau dibawa ke tempat-tempat yang dianggap kramat untuk mengusir-roh-roh jahat.

Mungkin sepintas lalu Anda tidak melihat adanya hal-hal yang negatif di dalam praktek-praktek tali rafia, minyak sakral, serta roti dan anggur seperti yang saya jelaskan tadi. Mungkin Anda bisa mengatakan bahwa ada banyak hasil positif dari praktek-praktek tersebut, dan saya juga setuju akan hal itu. Akan tetapi bahwa ada hasil-hasil yang positif dari praktek-praktek yang bersifat mistis tersebut, tidak berarti bahwa semua hal itu adalah kebenaran atau sesuai dengan Alkitab.

Coba Anda melihatnya secara kritis dan merenungkannya secara mendalam, apakah ada kesamaan antara praktek-praktek mistikisme Kristen dengan  praktek-praktek mistikisme non Kristen? Apakah bedanya penggunaan tali rafia dan minyak sakral dengan batu ajaibnya Ponari yang diyakini bisa menyembuhkan segala penyakit? Apakah bedanya kepercayaan pada kuasa mistis di dalam roti dan anggur dengan kepercayaan pada kuasa mistis di dalam benda-benda yang dianggap mengandung kekuatan mistis dari kuil-kuil atau klenteng seperti: abu, air, dll? Apaka bedanya penggunaan-penggunaan minyak urapan yang disakaralkan dengan penggunaan benda-benda keramat dari para suhu, dukun,  atau dari gunung Kawi?

Jika Anda melihat secara jujur semua fenomena itu dari kaca mata Alkitab, Anda akan menemukan kebenaran yang Alkitabiah yaitu bahwa praktek-praktek model mistikisme di dalam lingkungan gereja sekarang ini, sebenarnya sedang memunculkan atau menciptakan ‘tuhan-tuhan’ baru atau ‘allah-allah’ lain di samping Tuhan Yesus, tanpa disadari oleh yang oleh gereja atau oleh yang melakukannya.

Saya sangat yakin bahwa Anda adalah seorang beriman yang rindu   membangun hidup dan iman di atas prinsip-prinsip kebenaran Alkitab yang murni. Saya juga yakin Anda pasti seorang yang Kristen yang memiliki niat dan tujuan yang tulus untuk menyembah dan melayani Tuhan dengan cara-cara yang Alkitabiah.  Melalui kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk mulai beriman secara kritis dengan menggunakan akal sehat di dalam memahami Alkitab.

Sekarang saya akan mengajak Anda untuk melihat dan mendengar apa dan bagaimana kata Alkitab tentang berdoa, doa-doa penyembuhan, dan manifestasi kuasa supranatural.

1. Berdoa

Anda bisa menemukan banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa berdoa harus dan hanya dilakukan dengan iman dan di dalam nama Tuhan Yesus. Penulis Surat Ibrani menegaskan bahwa orang yang berpaling kepada Tuhan untuk berdoa, harus memiliki iman yang kokoh kepada kemahakuasaan Tuhan: Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia – Ibr. 11:6.  Yesus menegaskan bahwa jika kita berdoa di dalam nama-Nya, Ia akan mengaruniakan apa yang kita minta: dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Yoh. 14:13-14, dan segala sesuatu yang kita doakan di dalam nama Yesus, akan dikabulkan oleh Bapa – Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku – Yoh. 16:23. Sedangkan Yakobus menyatakan bahwa doa-doa Elia dikabulkan karena kesungguhan imannya: Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya. Yak. 5:17-18.

Dari ayat-ayat Firman Tuhan ini kiranya menjadi jelas bahwa dasar doa yang benar adalah iman atau mengimani kemahakuasaan Tuhan, sedangkan  kekuatan dan kuasa doa adalah nama Yesus. Kenyataan ini secara langsung menolak atau melawan model-model praktek doa-doa mistikisme yang menggunakan alat-alat, benda-benda, serta ritual-ritual khusus untuk membuat doa-doanya efektif atau berhasil.  Penggunaan benda-benda lain untuk berdoa adalah pelecehan kepada nama Yesus.

2. Kuasa Kesembuhan

Jika para mistikus menggunakan benda-benda seperti: tali rafia, minyak, serta roti dan anggur, dan lain-lain di dalam doa-doa penyembuhan,  di Alkitab kita membaca hal yang sebaliknya, yaitu bahwa kesembuhan bersumber dari Tuhan, dan datang lansung dari Tuhan, karena Tuhan adalah tabib atau Sang Penyembuh: Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.Kel. 15:26. Nabi Yesaya menyatakan bahwa kuasa kesembuhan adalah bilur-bilur Yesus:   Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilurbilurnya kita menjadi sembuh. Yes. 53:5. Dan Yesus sendiri menyatakan bahwa nama-Nya mengandung kuasa kesembuhan: Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh – Markus 16:17-18.

Rangkaian pernyataan Alkitab ini menyebutkan bahwa kuasa kesembuhan sepenuhnya ada di dalam Allah, dan mengalir kepada kita melalui dan di dalam nama Yesus.  Jika demikian, maka semua model, cara, atau praktek-praktek doa penyembuhan yang menggunakan alat-alat atau benda-benda lain sebagai sarana penyembuhan adalah mistik atau mistikisme.  Doa-doa penyembuhan dengan menggunakan benda-benda lain, ditambah dengan   nama Yesus adalah murni mistikisme.  Anda masih ingat salah satu prinsip di dalam mistikisme? Yaitu menyatukan atau mengawinkan antara roh alam semesta dangan Roh Ilahi.  Di sini tampak dengan jelas bahwa di dalam doa-doa penyembuhan model mistikisme Tuhan disejajarkan dengan benda-benda, suatu pemberhalaan, atau pendewaan terhadap  benda-benda, alat-alat, atau ritual-ritual: apakah itu tali rafia, minyak urapan, roti dan anggur, dll…  Dengan kata lain doa-doa penyembuhan yang menonjolkan pemakaian benda-benda dan alat-alat yang dianggap sakral, sama dengan menciptakan tuhan-tuhan dan allah-allah lain di samping Tuhan Yesus Kristus.

Berangkat dari kenyataan-kenyataan demikian, saya ingin bertanya kepada Anda: Apakah Anda bisa melihat atau menyadari bahwa praktek-praktek mistikisme Kristen ini secara terang-terangan melanggar Hukum atau Firman Tuhan?   Hukum  Tuhan mengatakan: Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Kel. 20:3. Tetapi para mistikus justru menciptakan allah-allah lain – berupa benda-benda yang disakralkan.

Apakah Anda bisa memahami dan menyadari bahwa penggunaan benda-benda sakral untuk doa-doa penyembuhan merupakan suatu sikap penyangkalan dan penolakan secara langsung terhadap otoritas tunggal nama Yesus di bawa kolong langit ini? Firman Tuhan menegaskan: Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan – Kis. 4:12.  Tetapi praktek pelayanan para mistikus menjawab bahwa masih ada nama-nama lain di bumi ini yang bisa menyelamatkan atau yang melaluinya sakit penyakit bisa disembuhkan:  namanya rafia, namanya minyak, namanya roti dan anggur, dll.

3. Kuasa Supranatural

Tadi saya sudah menjelaskan kepada Anda bahwa para mistikus mempercayai bahwa minyak yang sudah disakralkan melalui doa, dapat digunakan untuk mengatasi segala masalah dan situasi hidup manusia, karena kuasa supranatural mengalir melalui atau dengan perantaraan minyak.  Minyak yang sudah didoakan dapat digunakan untuk mengatasi  semua masalah yang timbul, dapat digunakan untuk pembersihan,  digunakan untuk mengusir setan-setan atau hal-hal yang jahat, dan seterusnya.

Saya ingin bertanya pada Anda! Menurut Anda, apakah praktek-praktek seperti ini tidak merendahkan atau melecehkan kuasa darah dan bilur serta nama Tuhan Yesus?  Rasul Paulus mengatakan bahwa segala makhluk bertekuk lutut pada nama Yesus:  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! Fil. 2:9-11. Tetapi mistikisme – praktek-praktek  minyak sakral – justru mengungkapkan bahwa masih ada kekuatan lain yang bisa mengatasi segalanya dan mampu menundukkan segala roh jahat, yaitu minyak sakral, tali rafia, dan yang lainnya?

Menurut Anda, apakah kepercayaan dan praktek penggunaan benda-benda untuk menghadirkan kuasa supranatural demi mengatasi segala masalah dan mengusir setan-setan tidak kontradiksi dengan pernyataan Yesus bahwa kuasa supranatural itu datang melalui Roh Kudus? Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Kis. 1:8. Tetapi praktek mistikisme – pemakaian minyak   untuk segala segala masalah dan situasi – menunjukkan bahwa mereka (para mistikus) menerima kuasa supranatural dan mengadakan mujizat-mujizat melalui atau dengan menggunakan minyak urapan.

Dari perbandingan-perbandingan ini, saya berharap Anda bisa melihat dengan jelas perbedaan bahkan kontradiksi yang sangat besar antara ajaran dan contoh-contoh yang diberikan Alkitab tentang berdoa atau doa-doa, dengan fenomena-fenomena dan praktek-praktek doa-doa mistikisme yang sekarang justru banyak didemonstrasikan di dalam gereja atau dari mimbar-mimbar penginjilan.

Sepanjang uraian ini, saya berkali-kali mengajukan pertanyaan pada Anda dengan maksud, supaya Anda mulai menggunakan akal sehat untuk menemukan kebenaran-kebenaran Alkitab. Saya berharap Anda mulai belajar membangun prinsip-prinsip iman yang kokoh dan murni di atas fondasi batu karang yaitu  Firman Allah yang tertulis  – Alkitab. Bangunlah kehidupan iman Anda di atas kebenaran yang murni, dan bukan di atas pernyataan-pernyataan atau praktek-praktek mistik. Jangan pertaruhkan iman dan keselamatan Anda hanya karena Anda melihat tanda-tanda atau praktek-praktek pelayanan yang sensasional.

Renugnkan ini: Semua yang kelihatan baik, hebat, dan ajaib,  tidak selalu berarti   benar atau kebenaran. Sebaliknya sesuatu yang benar atau kebenaran tidak selalu  baik bagi semua orang. Kebenaran tidak akan pernah memuaskan semua orang.

KESIMPULAN

Kiranya orang-orang Kristen mulai menyadari bahwa mistikisme tidak hanya merupakan ritual-ritual dan praktek-praktek kepercayaan di dalam dunia animisme/kafir yang sarat dengan unsur-unsur mistik dan berhala, tetapi sekarang tanpa disadari, unsur-unsur mistik dan berhala sudah masuk dan bahkan sudah berdiri di ‘tempat-tempat kudus’ di dalam gereja. Kiranya Anda mulai berhati-hati dan bersikap kritis di dalam meresponi setiap fenomena yang muncul di dalam gereja atau di sekitar Anda.

Sebagai akhir dari penjelasan ini, saya ingin mengutip nasehat Bang Napi:  “Waspadalah! Waspadalah! Kejahatan ada di mana-mana……

<Bersambung>

Oleh: EL-Asah | 28 Januari 2009

Untuk Direnungkan

praying12Mitos-Mitos Doa

 

 

  

 

 

 

Lukas 18:10-14

10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

 

Apakah Anda seorang yang suka berdoa, atau mendoakan orang lain?  Apakah Anda percaya bahwa dengan berdoa semua persoalan hidup Anda dapat terselesaikan?  Berapa kali dan berapa jam Anda berdoa dalam sehari, atau dalam seminggu? Berapa persen dari semua persoalan yang Anda doakan sudah terjawab atau sudah terselesaikan?

Jawaban-jawaban  terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas tentulah bervariasi, atau berbeda-beda. Dan ketika Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara jujur,  jawaban Anda  mungkin bisa membuat Anda merasa bahwa  ternyata Anda bukanlah  seorang  yang mempunyai iman kuat, karena Anda akan menyadari bahwa ada banyak doa Anda yang belum terjawab, atau mungkin tidak akan pernah dijawab.

Yang menjadi pokok persoalan berikutnya bagi Anda sekarang adalah bagaimana agar doa-doa Anda dijawab bisa dijawab oleh Tuhan.   Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah ada suatu konsep tentang cara (metode) berdoa yang menjamin bahwa   doa-doa Anda akan efektif?  

Anggapan bahwa ada sebuah konsep tentang cara berdoa yang paling efektif mendorong banyak orang untuk menciptakan cara-cara berdoa yang dianggap paling baik, mencari dan membangun tempat-tempat berdoa yang disakralkan, atau mencari orang-orang yang dianggap mempunyai keunggulan dalam berdoa.  Semua  cara tersebut hanyalah kepercayaan yang kalau dilihat secara jujur, tidak jauh berbeda dari pola-pola kepercayaan orang-orang kafir, yaitu kepercayaan  yang mengkultuskan sesuatu: bisa tempat, bisa benda, bisa cara,  bisa seseorang,  dan lain-lain.

Misalnya; ada yang meyakini bahwa hamba Tuhan atau Pdt. A  (manusia) mempunyai otoritas khusus dalam mendoakan orang sakit, atau mendoakan keberhasilan usaha. Ada yang meyakini bahwa kalau Anda beribadah atau berdoa di  gereja (persekutuan) B, doa Anda pasti dijawab.  Ada pula  yang percaya bahwa jika Anda berdoa di bukit doa itu, atau gua doa ini, atau taman doa sana, maka doa Anda akan dijawab dalam waktu singkat.  Semua anggapan dan keyakinan tersebut hanyalah mitos.

Mari kita kembali pada bacaan dalam Alkitab di atas. Yesus mengatakan bahwa ada dua orang pergi ke bait Allah untuk berdoa:

Orang pertama (Farisi) masuk dan berdiri di depan altar  dalam Bait Allah. Ia berdoa dengan penuh semangat (berapi-api), ia berdoa dengan penuh percaya diri, dan ia mengungkapkan isi doanya  secara sistematis.  Ia sangat yakin bahwa berdoa dengan cara-cara seperti itu pasti berhasil.  Apa yang menjadi dasar keyakinannya?

 

1.      Status atau atribut-atribut rohani:  Ia berpikir bahwa status dan atribut-atribut religius yang ia miliki sebagai seorang Farisi itu akan membuat doa-doanya berwibawa sehingga menjadi efektif (ayat 11).

2.      Tempat yang disakralkan:  Ia mengira bahwa tempat yang disakralkan, di mana ia sedang beridiri (di bait Allah) akan membuat doa-doanya menjadi sakral dan karenanya akan manjur (ayat 11).

3.      Nilai-nilai moralitas: Ia menganggap nilai-nilai moralitas/spiritualitas yang dimilikinya – sebagai orang yang baik, orang yang bersih, orang rohani, menjamin  jawaban terhadap doanya: aku tidak seperti semua orang (ayat  11).

4.      Aktivitas rohani:  Ia  mengira bahwa  aktivitas-aktivitas rohani yang dilakukannya – berpuasa dua kali dalam seminggu, memberikan semua persepuluhan, akan menggugah hati Allah sehingga Allah menjawab doanya: aku berpuasa dua kali  dalam seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku (ayat 12).

 

Lalu bagaimana respon Yesus terhadap doa orang Farisi ini?  Yesus tidak memberi komentar. Yesus tidak tertarik mendengar doa itu, dan tidak peduli apa isi doa orang Farisi. Doa itu dibiarkan berlalu bagai angin…… Artinya, metode-metode berdoa yang dia lakukan bersifat mitos  – hanya sebuah kepercayaan, sebuah anggapan, yang diciptakannya sendiri.

           

Orang kedua (si Pemungut Cukai) – berbeda  dari orang Farisi tadi yang  berdoa dengan cara berdiri di depan altar dalam Bait Allah,  si pemungut cukai berdoa dengan cara bardiri jauh di luar halaman bait Allah, dan doanya pun sangat singkat, bahkan tidak sistematis (ayat 13).

1.      Ia berdoa dengan sikap yang realistis – berdiri jauh-jauh, tidak berani mengangkat muka –   karena  ia merasa tidak layak.  Ia melihat pada dirinya melekat begitu banyak kesalahan dan dosa yang telah ia lakukan juga karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai, membuat ia menerima kebencian dari orang-orang lain.

2.      Ia berdoa dalam penyesalan yang mendalam – memukul-mukul diri  – karena sadar akan dosa-dosanya.

3.      Ia berdoa  dalam kerendahan hati, hanya memohon rasa belas kasihan dari Tuhan – kasihanilah aku orang yang berdosa ini – karena ia kenal diri – bahwa ia hanyalah seorang manusia berdosa yang tidak berhak menuntut, mengklaim apa-apa kepada Tuhan.  

 

Tetapi bagaimana tanggapan atau reaksi Yesus terhadap doa si pemungut cukai itu? Dalam ayat 14 Yesus berkata:  Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.  Doa si pemungut cukai  menggugah hati Yesus,  sehingga Yesus menjawabnya dengan pembenaran.  Si pemungut cukai  pulang ke rumahnya membawa hasil-hasil doanya, yaitu hidupnya dterima sebagai orang benar.

Apa yang dimaksud dengan mitos-mitos doa? Perhatikan cara berdoa si orang Farisi. Di dalam doanya terdapat banyak hal yang dimitoskan:

 

 

1.      Mitos status   

Orang  pertama mempunyai status keagamaan (kerohanian) yang cukup terhormat dalam agama Yahudi. Ia adalah seorang Farisi. Paulus mengatakan bahwa status atau posisi sebagai orang Farisi memberi banyak keuntungan dan hak-hak istimewa (Filipi  3:4-7).  Dalam kapasitasnya sebagai Farisi, ia juga melakukan banyak kegiatan keagamaan (kerohanian) yang dianggap akan menjamin doa-doanya lebih efektif. 

Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan doa-doa  mereka sangat tergantung pada siapa yang mendoakan, atau siapa yang berdoa berdoa untuk mereka. Apakah yang mendoakan itu adalah hamba Tuhan (pendeta) si A yang diyakini orang memiliki karunia ini dan itu, apakah pendeta si B, yang  dikenal memiliki status ini dan itu, atau hamba Tuhan si C, si X, dll.   Artinya, mereka yang beranggapan demikian telah mimiliki mitos doa,  dalam hal ini adalah memitoskan manusia. 

Keadaan ini lebih diperparah dengan munculnya oknum-oknum hamba Tuhan yang memitoskan dirinya sendiri  sebagai pendoa-pendoa yang mempunyai kuasa menyembuhkan, mempunyai karunia  yang dapat mengatasi setiap masalah kita, atau memitoskan diri sebagai  hamba Tuhan yang memiliki karunia khusus ini, khusus itu, dan lain-lain.

Ciri dari hamba-hamba Tuhan yang memitoskan dirinya adalah  menyampaikan untkapan-ungkapan yang berbunyi:  Saya akan berdoa supaya Anda mengalami mujizat, saya akan berdoa supaya Anda menjadi orang sukses, saya akan berdoa supaya usaha Anda diberkati, Tuhan mengutus saya untuk memberkati Anda,  dst…… Akhirnya doa-doanya menjadi seperti barang komersial. Doa menjadi alat untuk mengkomersialkan diri.

 

2.      Mitos tempat

Sebagian orang beriman mengira atau memiliki kepercayaan bahwa tempat di mana kita berdoa, atau tempat di mana kita beribadah  akan menjamin doa akan dijawab. Akibatnya muncul ungkapan-ungkapan: kalau Anda berdoa di  gua doa yang di sana, Anda pasti mangalami hadirat Tuhan, kalau Anda berdoa di taman doa itu, Anda pasti mengalami mujizat, kalau Anda berdoa di gunung itu, doa-doamu pasti dijawab.

Ada banyak orang yang mengatakan: kalau Anda beribadah di gedung itu, Anda akan mengalami sukacita surga,  atau kalau  Anda ingin mengalami kepenuhan Roh Kudus, Anda harus berjemaat di gereja yang  ini. Ada juga yang mengatakan:  kalau Anda ingin mengalami kesuksesan dalam usaha atau karier, Anda harus menjadi anggota gereja ini, atau kalau Anda ingin selalu mengalami mujizat-mujizat berkat,  jadilah pengikut pendeta. A.

 Lalu muncul slogan-slogan di sana sini demikian:  Datanglah ke rumah mujizat!  Hadirlah di rumah berkat! Kunjungilah rumah pemulihan! Di sini Anda akan dipulihkan!   Slogan-slogan yang demikian secara terang-terangan telah memitoskan (memberhalakan) suatu tempat. Dan pola-pola seperti ini juga tidak berbeda  dari bentuk-bentuk kepercayaan orang kafir. Misalnya; orang mencari rejeki dengan cara memitoskan gunung Kawi, orang mencari keberhasilan dengan memitoskan Parang Kusuma yang dipercayai sebagai tempat ratu Kidul, dan tempat-tempat lain yang dimitoskan orang-orang kafir.

Yesus menentang doa-doa yang memitoskan tempat. Ia mengingatkan perempuan Samaria, bahwa pendoa dan penyembah yang benar tidak boleh memitoskan  gunung Samaria ataupun gunung Sion Yerusalem.  Orang yang berdoa dengan memitoskan suatu tempat, adalah orang yang tidak mengenal siapa yang ia sembah (Yohanes  4:21-23).

             

3.  Mitos kemampuan spiritual

Terdapat pula sebagian orang yang  percaya bahwa persoalan-persoalan hidupnya akan teratasi kalau yang mendoakannya adalah orang yang dianggap memiliki kemampuan spiritual yang khusus (bahasa Alkitab: orang yang memiliki karunia rohani khusus).

            Kita sering berjumpa dengan oknum-oknum yang mengaku memiliki karunia doa pelepasan, ada yang mengaku memiliki karunia doa mengusir setan, ada yang mengaku memiliki karunia penyembuhan, ada yang mengaku memiliki karunia penyembuhan luka-luka dalam, ada yang mengaku memiliki karunia memberkati, dst…..

 Lalu muncullah himbuan-himbauan yang menyatakan  bahwa kalau Anda menginginkan kesembuhan fisik, Anda harus datang kepada hamba Tuhan A,  karena dia punya karunia kesembuhan. Kalau Anda ingin mengalami pelepasan, Anda harus datang kepada hamba Tuhan X  sebab dia punya karunia pelepasan. Kalau Anda i ngin mengalami mujizat berkat rumah tangga/usaha – Anda harus cari hamba Tuhan Z, sebab dia punya karunia memberkati.

Jika seseorang – Anda berdoa – dengan mengandalkan karunia-karunia rohani yang ada pada seseorang, Anda sesungguhnya sedang terjebak dalam kerangka berpikir mitos, atau Anda sedang memitoskan kemampuan-kemampuan rohani. Alkitab memang mengajarkan tentang adanya karunia-karunia, atau kemampuan-kemampuan  rohani yang diberikan kepada seseorang, akan tetapi adanya karunia-karunia rohani tidak dimaksudkan mengesampingkan nilai dan  otoritas kuasa Nama Yesus. Adanya karunia-karunia rohani tidak boleh menggeser pengharapan dan pengagungan kita kepada Nama Yesus.  Firman Tuhan berkata: di bawah kolong langit tidak ada nama lain yang melaluinya kita selamat  atau mendapat perrtolongan – kecuali dalam nama Yesus (Kis.4:12).

 

Nama Yesus

Tuhan menjawab doa-doa kita – bukan karena siapa yang berdoa atau mendoakan kita – tetapi karena kita mengenal siapa diri kita yang berdoa di hadapan Allah.   Tuhan menjawab doa-doa kita – bukan karena kita berdoa atau beribadah di suatu tempat yang disakralkan, atau di suatu rumah ibadah yang dikultuskan – tetapi karena kita berdoa dengan hati jujur kepada Tuhan.  Tuhan menjawab doa-doa kita – bukan karena kemampuan (karunia) rohani dari seseorang – tetapi karena kebesaran kemurahan dan rasa belas kasih Allah kepada kita, dan karena kita berdoa dalam Nama Yesus.

Yesus menegaskan bahwa doa yang dinaikkan atas Nama-Nya akan dijawab:  Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yoh. 14:14).  Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku (Yoh.16:23).  

Jika Anda mengira atau percaya bahwa seseorang yang memiliki jabatan rohani menjamin keberhasilan sebuah doa, Anda sedang terperangkap dalam mitos.  Jika Anda menganggap bahwa  ada tempat-tempat tertentu, rumah-rumah ibadah tertentu yang  menjamin doa-doa Anda dijawab, atau yang menjamin Anda diberkati, Anda telah dikuasai oleh prinsip-prinsip kepercayaan primitif yang sarat dengan mitos.

Yesus tidak menghendaki kita mengkultuskan suatu tempat untuk berdoa. Ia berkata kepada seorang wanita Samaria yang Ia temui di sumur Yakub, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Yohanes 4:21-23)

Allah telah memberikan satu karunia terbesar, kuasa terbesar,  yang menjamin keberhasilan setiap doa kita.  Karunia itu adalah Nama Yesus Kristus.  Rasul Paulus mengingatkan kitab bahwa yang perlu diagungkan dan diandalkan dalam doa adalah nama Yesus, karena Allah sendiri telah meninggikan Nama itu: Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus

adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Filipi 2:9-11).

            Nama Yesus  lebih tinggi  dari pada si pendoa, siapapun dia dan apapun status serta gelarnya (hamba Tuhan, pendeta, pastor,  nabi, rasul, penginjil, dll). Nama Yesus lebih sakral dari pada gua-gua doa, gunung-gunung doa, gedung-gedung gereja, dan Nama Yesus lebih besar dari pada karunia-karunia rohani.

Yesus menegaskan:  apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yohanes 14:13-14).

Hanya nama Yesus yang menjamin doa-doa kita dijawab, di luar prinsip keyakinan ini adalah mitos.

Kategori